Minggu, 28 April 2013

PENANAMAN NILAI-NILAI NASIONALISME DI PONDOK PESANTREN


B.       LATAR BELAKANG MASALAH
Menurut kodratnya, manusia diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa selain sebagai makhluk individu juga sebagai makhluk sosial. Oleh karena itu manusia dimanapun dan pada zaman apapun selalu hidup bersama dan berkelompok.
Sebagai makhluk sosial, manusia selalu mengadakan hubungan satu sama lain dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Selain untuk memenuhi kebutuhan hidup, antara manusia yang satu dengan yang lain akan menjalin suatu kontak demi memenuhi berbagai kepentingan yang dibutuhkan. Suatu kontak yang menyenangkan tidak akan menimbulkan masalah yang dapat mengganggu keserasian hidup bersama. Sebaliknya kontak yang tidak menyenangkan akan menimbulkan masalah yang dapat mengganggu keserasian hidup bersama (Sutrisno, 2005:3).
Apabila ketidakseimbangan hubungan masyarakat tersebut dibiarkan, akan menyebabkan suatu perselesihan yang kemudian akan menimbulkan suatu perpecahan dalam masyarakat. Oleh karena itu, untuk mencegah terjadinya perpecahan tersebut, manusia membuat suatu kesepakatan atau peraturan bersama yang kemudian dikenal sebagai hukum. Supaya hukum tersebut berjalan sesuai dengan fungsinya, dibutuhkanlah suatu lembaga atau tempat untuk menegakkan aturan tersebut.
Tempat atau lembaga dalam kehidupan bermasyarakat tersebut dinamakan dengan daerah. Daerah yang dimaksud ini kemudian membutuhkan suatu hukum dan perbuatan hukum. Apabila kedua hal tersebut ada di dalam daerah itu, maka daerah tersebut akan teratur dan tentram.
Disisi lain suatu daerah yang teratur dan tentram tersebut membawa dampak pada  perubahan sosial dalam masyarakat, sehingga antara daerah yang satu dengan yang lain memiliki tingkat sosial yang berbeda. Hal ini yang kemudian membuat sebagian warga masyarakat mulai meninggalkan daerah mereka masing-masing menuju daerah yang memiliki tingkatan sosial lebih maju (perkotaan). Pada saat mereka tiba di daerah perkotaan, banyak dari warga masyarakat tersebut mulai merasakan hilangnya makna hidup yang pernah meraka alami dari sebelumnya. Dalam dunia perkotaan, sebagian warga tidak lagi menemukan adanya rasa kebersamaan, yang ada hanyalah kebiasan atau rutinitas yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam suasana seperti itu, sebagaian warga masyarakat tersebut mulai merasakan akan pentingnya rasa kebersamaan. Untuk  menyatukan rasa kebersamaan itu, kemudian muncullah bahasa persatuan sebagai alat komunikasi sehari-hari. Selain sebagai alat komunikasi sehari-hari, ternyata bahasa juga mampu mentransfer atau menyebarluasakan unsur-unsur kebersamaan diantara waga penduduk tersebut. Dengan demikian muncullah rasa kebersamaan dikalangan penduduk tersebut yang menamakan diri mereka sebagai suatu bangsa. Rasa kebersamaan yang tertanam pada tiap masyarakat tersebut kemudian berkembang tidak hanya sebatas pada bahasa atau komunikasi sehari-hari, tetapi berkembang kedalam bentuk lainnya seperti sikap saling membantu, kerjasama dan musyawarah. Rasa kebersamaan masyarakat yang dilandasi dengan persamaan kepentingan, identitas, dan adanya solidaritas sebagai satu bangsa tersebut kemudian diintegrasikan menjadi sikap nasionalisme.
Secara umum nasionalisme dapat diartikan sebagai suatu alat pemersatu yang membuat bangsa atau negara menjadi lebih kuat serta solid untuk menghadapi tekanan, penjajahan dan penindasan yang terjadi dalam memecah belah negara tersebut. Selain itu, nasionalisme juga dapat diartikan sebagai suatu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia.
Pendapat lain mengatakan bahwa nasionalisme merupakan sebuah institusi kejiwaan dimana kesetiaan seseorang secara total diabadikan langsung kepada negara bangsa atas nama sebuah bangsa. Paham Nasionalisme pertama kali muncul di Eropa pada akhir abad ke-18, yang ditandai dengan lahirnya negara-bangsa (nation-states). Negara bangsa adalah negara-negara yang lahir karena semangat nasionalisme. Paham nasionalisme tersebut lahir pada masa peralihan dari masyarakat agraris ke masyarakat industri. Proses peralihan ini didahului dengan lahirnya paham liberalisme dan kapitalisme yang bersumber dari Revolusi Industri dan Revolusi Perancis. Dengan semangat persaingan bebas (liberal) dan masyarakat kapitalis maka nasionalisme tersebut melahirkan chauvinisme. Sikap chauvininisme yang berlebihan tersebut kemudian berubah menjadi sikap kolonialisme dan imperialisme, yaitu nafsu untuk mencari tanah jajahan sebanyak mungkin di luar wilayahnya sendiri dengan sasaran Asia dan Afrika (Ari, 2009:133).
Gerakan nasionalisme tersebut mencapai puncaknya  pada awal abad 20 dimana terjadi gelombang gerakan nasionalisme di berbagai kawasan Asia dan Afrika, termasuk Indonesia. Nasionalisme yang terjadi di Asia dan Afrika merupakan gerakan yang mencerminkan kebangkitan bangsa-bangsa Asia dan Afrika sebagai reaksi terhadap Imperialisme dan Kolonialisme bangsa-bangsa barat. Nasionalisme di Indonesia terjadi pada tahun 1908 yang ditandai dengan lahirnya organisasi Budi Utomo. Sejak berdirinya Budi Utomo, perkembangan nasionalisme Indonesia menjadi sangat cepat. Hal ini ditandai dengan munculnya berbagai organisasi pergerakan yang mempunyai tujuan yang sama yaitu mencapai kemerdekaan atau membebaskan bangsa Indonesia dari belenggu kolonialisme.
Dilihat dari segi historis tersebut, nasionalisme yang terjadi di Indonesia tidak dapat disamakan dengan nasionalisme yang terjadi di Eropa, Karena nasionalisme Indonesia adalah nasionalisme yang berkeadilan sosial, anti kolonialisme, imperialisme dan kapitalisme. Nasionalisme barat adalah nasionalisme yang mengarah ke nasionalisme sempit (chauvinisme), yang membenci bangsa atau suku bangsa lain, menganggap bangsa sendirilah yang paling bagus, paling unggul sesuai dengan individualisme barat.
Gerakan nasionalisme Indonesia telah membawa bangsa ini menjadi bangsa yang mandiri, terlepas dari belenggu penjajahan bangsa lain, sehingga pada tanggal 17 Agustus 1945 lahirlah bangsa Indonesia sebagai bangsa yang merdeka, yang sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Setelah bangsa ini merdeka dan lepas dari segala penjajahan, bukan berarti sikap nasionalisme bangsa juga ikut menghilang. Karena nasionalisme pada masa penjajahan dengan masa sekarang tidaklah sama, namun memiliki arti tujuan yang sama yaitu menciptakan masyarakat adil dan makmur terlepas dari ketergantungan bangsa lain.
Nasionalisme bangsa saat ini lebih banyak diisi dengan berbagai pembangunan, terutama melalui pembangunan fisik atau infratruktur misalnya gedung-gedung, jalan raya, pelabuhan, bandara dan lain-lain. Pembangunan bangsa yang tidak diikuti penanaman nilai nasionalisme akan berdampak runtuhnya sikap nasionalisme bangsa terutama bagi kalangan generasi muda. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya generasi muda (pelajar) yang melakukan tindak kriminalitas seperti tawuran pelajar, terjebak ke dalam lingkaran narkoba, miras, seks bebas dan lain-lain, yang mana hal ini menandakan rapuhnya karakter bangsa. Karakter bangsa Indonesia yang relegius, ramah, toleran, suka gotong royong dan sejenisnya, kini telah hilang. Padahal mereka adalah insan pendidikan yang seharusnya memiliki semangat jiwa nasionalisme dan bukanya melakukan suatu tindakan yang mengarah pada perpecahan bangsa.
Saat ini nasionalisme bangsa Indonesia sedang menghadapi suatu tantangan besar dari peradaban baru yang bernama globalisasi. Menurut Malcolm Waters (Idrak, 2010:226) globalisasi adalah sebuah proses sosial yang berakibat bahwa pembatasan geografis pada keadaan sosial budaya menjadi kurang penting, yang terjelma dalam kesadaran orang. Arus globalisasi yang masuk begitu cepat tanpa diimbangi kesiapan mental dalam diri pribadi generasi muda akan membuat anak muda kehilangan kepribadian diri sebagai bangsa Indonesia. Hal ini ditunjukkan dengan gejala-gejala yang muncul dalam kehidupan sehari-hari anak muda sekarang. Dari cara berpakaian banyak dari mereka yang berdandan seperti selebritis yang cenderung ke budaya barat. Mereka menggunakan pakaian yang minim bahan yang memperlihatkan bagian tubuh yang seharusnya tidak kelihatan. Padahal cara berpakaian tersebut jelas-jelas tidak sesuai dengan kebudayaan bangsa Indonesia yang menganut budaya ketimuran.
Dilihat dari sikap, banyak anak muda yang tingkah lakunya tidak mengenal sopan santun dan cenderung tidak ada rasa peduli terhadap lingkungan. Globalisasi menganut kebebasan dan keterbukaan sehingga banyak dari mereka bertindak sesuka hati. Salah satu contohnya adalah adanya geng motor anak muda yang sering melakukan tindakan kekerasan serta menganggu ketentraman dan kenyamanan masyarakat.
Di era globalisasi saat ini, nasionalisme bangsa Indonesia mengalami tantangan yang cukup besar. Tidak hanya karakter bangsa yang mulai ditinggalkan generasi muda, tapi juga telah masuk kedalam berbagai sendi kehidupan. Misalnya dalam bidang ideologi, dunia barat selalu berusaha menyakinkan kepada negara-negara diseluruh dunia bahwa ideologi liberalisme merupakan salah satu jawaban untuk mencapai kemajuan dan kemakmuran bangsa. Jika generasi bangsa saat ini tidak pandai memilah dan memilih, tidak menutup kemungkinan ideologi negara Indonesia akan berubah arah dari Pancasila ke Liberal yang jelas-jelas tidak sesuai dengan akar kebudayaan bangsa Indonesia (Darmiyati, 2008).
Dari segi ekonomi, globalisasi juga telah menimbulkan keresahan bagi kalangan warga masyarakat, membanjirnya produk luar negeri yang tidak terkontrol dengan harga yang murah, menarik dan belum tentu aman bagi kesehatan merupakan salah satu tantangan tersendiri yang harus dihadapi bangsa ini. Selain itu, generasi muda sekarang juga lebih tertarik terhadap produk-produk buatan luar negeri daripada produk bangsa sendiri. Dengan hilangnya sikap cinta produk dalam negeri, merupakan gejala awal memudarnya rasa nasionalisme masyarakat terhadap bangsa Indonesia.
Di era globalisasi yang serba instan, dimana akses informasi dapat diterima dengan begitu cepat. Peristiwa yang jaraknya ratusan kilometer, dapat diketahui masayarakat dalam hitungan detik. Selain membawa dampak positif, perkembangan arus informasi juga membawa dampak negatif. Salah satu contohnya adalah munculnya situs pertemanan facebook yang seharusnya dipakai tempat komunikasi dan berbagi informasi dari teman serta komunitas. Tapi dalam prakteknya situs pertemanan tersebut banyak disalahgunakan oleh piha-pihak yang tidak bertanggung jawab. Misalnya, sebagai tempat melakukan penipuan, penculikan, transaksi pornografi dan tindak kriminal lainnya seperti yang terjadi akhir-akhir ini di masyarakat. Selain itu,  dampak dari globalisasi yang terlihat dari kalangan generasi muda adalah munculnya sikap individualisme yang cenderung tidak peduli terhadap masyarakat maupun lingkungan. Padahal generasi muda merupakan generasi penerus bangsa yang seharusnya mampu meneruskan dan melanjutkan cita-cita luhur para pendiri bangsa ini.
Generasi muda merupakan penentu perjalanan bangsa dimasa berikutnya. Selain sebagai motor penggerak perubahan, generasi muda juga dituntut untuk mempersiapkan diri dalam membangkitkan kembali sikap nasionalisme dimasa sekarang dan mendatang. Nasionalisme yang perlu diwujudkan saat ini bukan tindakan dalam bentuk fisik (perang) melainkan nasionalisme yang sesuai dengan kondisi bangsa saat ini. Jika dulu generasi muda berjuang dengan mengangkat senjata dengan berperang melawan penjajah. Namun dengan suasana dan kondisi yang berbeda dengan sekarang, sikap nasionalisme dapat diwujudkan dalam bentuk lain, yang pada intinya mampu membawa kemajuan bangsa.
Menurut pengamat sosial terjadinya berbagai masalah kebangsaan terutama dikalangan remaja seperti sekarang ini sebagian bersumber dari kesalahan lembaga pendidikan nasional yang dianggap belum optimal dalam membentuk kepribadian peserta didik.
Lembaga pendidikan saat ini lebih menekankan pada penerapan paradigma patrialistik yaitu memberikan porsi besar untuk pengetahuan umum namun melupakan pengembangan sikap nilai dan perilaku dalam pembelajarannya.
Melihat keterbatasan kemampuan lembaga pendidikan formal dalam membentuk sikap nasionalisme peserta didik  selama ini, mendorong masyarakat untuk menengok sistem pendidikan lain yaitu sistem pendidikan yang sebenarnya sudah tumbuh dan berkembang jauh sebelum  lahirnya sistem pendidikan konvensional warisan penjajah yang diterapkan pemerintah. Sistem pendidikan yang dimaksud adalah sistem pendidikan pesantren.
Pondok pesantren beserta perangkat pendidikannya, seperti: kyai,  santri, pondok dan masjid yang bersifat  nonformal merupakan suatu lembaga pendidikan dan lembaga sosial kemasyarakatan yang telah memberikan warna dan corak khas dalam wajah masyarakat Indonesia. Pesantren telah tumbuh dan berkembang bersama warga masyarakatnya sejak berabad-abad. Oleh karena itu tidak hanya  secara kultural lembaga ini bisa diterima, akan tetapi telah ikut serta membentuk dan memberikan corak nilai kehidupan kepada masyarakat yang senantiasa tumbuh dan berkembang.
Pendidikan pesantren juga dapat dikatakan sebagai modal sosial dan bahkan ikut berperan dalam perkembangan pendidikan nasional di Indonesia. Pendidikan pesantren yang berkembang sampai saat ini dengan berbagai ragam modelnya senantiasa selaras dengan jiwa, semangat, dan kepribadian bangsa Indonesia yang mayoritas beragama Islam.
Ketika saat ini banyak orang tua yang kebingungan mencari lembaga pendidikan alternatif untuk membentengi anak didiknya dari pengaruh-pengaruh negatif modernisme dan globalisasi, maka salah satu alternatifnya adalah melalui pendidikan pesantren. Sampai hari ini pesantren memang masih dianggap atau dikenal sebagai lembaga pendidikan yang sangat ketat dalam memproteksi para santrinya dari pengaruh-pengaruh produk modernitas yang buruk, terutama pergaulan bebas, kenakalan remaja, narkoba, dan lain-lain.
Pengaruh-pengaruh globalisasi tersebut memang tidak secara langsung berpengaruh terhadap nasionalisme. Akan tetapi secara keseluruhan sikap tersebut dapat menimbulkan rasa nasionalisme terhadap bangsa menjadi berkurang atau hilang. Jika pengaruh-pengaruh di atas dibiarkan, bukan tidak mungkin generasi bangsa ini menjadi rusak, yang kemudian akan timbul tindakan anarkis antara golongan muda. Hubungannya dengan nilai nasionalisme juga akan berkurang karena tidak ada rasa cinta terhadap nilai-nilai bangsa sendiri dan rasa peduli terhadap masyarakat.
Pesantren sebagai salah satu pelopor pendidikan islam di Indonesia juga perlu mengantisipasi segala fenomena tersebut dengan akses budaya global secara tepat. Akses sosial dalam proses ini harus ditangkap sebagai kenyataan baru yang harus dijawab dan diikuti oleh konstruksi agama. Sedangkan kehadiran globalisasi memang melahirkan tuntutan perubahan terhadap dunia pesantren, yang perlu diantisipasi berdasarkan perkiraan masa depan yang tepat dan memiliki prespekstif jangka panjang.
Tujuan pendidikan pesantren tidak semata-mata untuk memperkaya pikiran santri dengan pelajaran-pelajaran agama, tetapi untuk meninggikan karakter bangsa, melatih dan mempertinggi semangat nasionalisme, menghargai nilai-nilai persatuan, mengajarkan sikap dan tingkah-laku yang jujur dan bermartabat, dan menyiapkan para santri untuk hidup sederhana dan bersih hati. Setiap santri juga diajarkan agar menerima etika agama di atas etika-etika yang lain. Tujuan pendidikan pesantren bukanlah untuk mengejar kepentingan kekuasaan, uang dan keagungan duniawi. Tetapi ditanamkan kepada mereka bahwa belajar adalah semata-mata kewajiban dan pengabdian (ibadah) kepada Tuhan.
Pada dasarnya penanaman nilai nasionalisme merupakan pendidikan sikap dan perilaku anak kepada bangsa dan negara, sehingga pendidikan tersebut dapat dilakukan dikalangan pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan non formal. Pendidikan tersebut juga diterapkan di Pondok Pesantren Assalafy Al Asror. Dalam pelaksanaan pendidikan untuk menanamkan nilai-nilai nasionalisme kepada anak didiknya(santri), pengasuh berupaya dengan sungguh-sungguh untuk menanamkan nilai-nilai nasionalisme khususnya yang bersumber dari Al Quran dan Hadis. Namun demikian, upaya tersebut sampai saat ini belum membuahkan hasil maksimal sesuai dengan apa yang diharapkan.
Pondok Pesantren Assalafy Al Asror merupakan yayasan sosial yang bergerak pada pelayanan masyarakat yaitu memberikan pendidikan khusunya pendidikan agama dan membentuk karakter positif bagi individu-individu anak bangsa.
Selama ini pelaksanaan pendidikan yang diterapkan di Pondok Pesantren Assalafy Al Asror lebih menekankan pada  keberhasilan pengajaran di bidang ilmu agama, sedangkan ilmu umum yang lain dapat dikatakan sebagai pelengkap bagi ilmu agama. Para santri dianggap berhasil apabila mampu membaca kitab kuning dan mengetahui isi atau maksud dari kitab tersebut dengan lancar. Di pesantren tersebut, setiap hari para santri mendapatkan materi pembelajaran yang bersumber dari kitab kuning berbahasa arab yang isinya membahas tentang masalah agama, surga dan neraka. Namun jarang sekali para santri mendapat materi pengetahuan umum terutama masalah nasionalisme yang di dalamnya terkandung keberagaman bangsa Indonesia yang multi etnis, agama, dan budaya. Menurut kenyataan yang ada, pemahaman terhadap ilmu agama di Pondok Pesantren Assalafy Al Asror dijadikan dasar atau prioritas utama, hal ini dikarenakan ilmu pengetahuan yang sifatnya umum seperti nasionaslime dapat diterima dan dipelajari di sekolah formal. Selain masalah materi pembelajaran, masih banyak sekali ditemui kurangnya sikap nasionalisme yang dimiliki oleh para santri misalnya pada saat berlangsung belajar mengajar banyak ditemui santri yang masih menyontek, datang terlambat dan melanggar tata tertib pesantren. Kalau kondisi seperti ini dipertahankan secara berkelanjutan, maka akan berakibat pada sikap nasionalisme yang dimilki para santri pondok pesantren semakin berkurang, sehingga akan membawa dampak yang kurang baik bagi kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara.
Merosotnya nilai-nilai nasionalisme di Pesantren Al Asror tersebut tampaknya telah menggugah kesadaran bersama untuk perlunya memperkuat kembali dimensi nasionalisme bangsa, diantaranya dengan mengoptimalkan pelaksanaan penanaman nilai-nilai nasionalisme secara optimal dibandingkan dengan sebelumnya.
Dengan adanya kondisi seperti itu, penulis beranggapan bahwa masih belum konsistennya sikap dan perilaku santri sebagai peserta didik dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Al Quran dan Hadis, maupun nilai-nilai nasionalisme lain yang telah tumbuh dalam mayarakat.
Berdasarkan latar belakang diatas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul: “Penanaman Nilai-Nilai Nasionalisme di Pondok Pesantren Assalafy Al Asror Kelurahan Patemon kecamatan Gunungpati Semarang

C.      RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah:
1.    Bagaimana pelaksanaan penanaman nilai-nilai nasionalisme di Pondok Pesantren Assalafy Al Asror Kelurahan Patemon Kecamatan Gunungpati Semarang?
2.    Faktor apa saja yang menunjang dan menghambat penanaman nilai-nilai nasionalisme di Pondok Pesantren Assalafy Al Asror Kelurahan Patemon Kecamatan Gunungpati Semarang?
3.    Bagaimana mengatasi hambatan-hambatan pada penanaman nilai-nilai pasionalisme di Pondok Pesantren Assalafy Al Asror Kelurahan Patemon Kecamatan Gunungpati Semarang?

D.      TUJUAN PENELITIAN
Berdasarkan uraian di atas, maka tujuan yang akan di capai dalam penelitian ini adalah:
1.    Mengetahui lebih jelas tentang penanaman nilai-nilai nasionalisme di Pondok Pesantren Assalafy Al Asror Kelurahan Patemon Kecamatan Gunungpati Semarang.
2.    Mendeskripsikan faktor-faktor yang menunjang dan menghambat pada penanaman nilai-nilai nasionalisme di Pondok Pesantren Assalafy Al Asror Kelurahan Patemon Kecamatan Gunungpati Semarang.
3.    Mendeskripsikan cara mengatasi hambatan-hambatan pada penanaman nilai-nilai nasionalisme di Pondok Pesantren Assalafy Al Asror Kelurahan Patemon Kecamatan Gunungpati Semarang.

E.       MANFAAT PENELITIAN
Hasil penelitian ini di harapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoritis maupun secara praktis.
1.    Manfaat Teoritis
Secara teoretis, penelitian ini diharapkan mampu memberikan satu kajian ilmiah yang mendalam tentang dinamika dunia pesantren, terutama yang berhubungan dengan penanaman nilai-nilai nasionalisme yang terjadi di lingkungan pesantren.
2.    Manfaat Praktis
Secara praktis, penelitian ini diharapkan mampu memberikan manfaat yaitu:
1)   Bagi santri
Hasil penelitian ini dapat memberikan pengetahuan kepada santri mengenai pentingnya nilai-nilai nasionalisme sehingga setelah mendapat pengetahuan tersebut diharapkan santri mempunyai sikap nasionalisme yang tertanam pada diri santri.
2)   Bagi pondok pesantren
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan kepada pondok pesantren sehingga mampu menentukan kebijakan yang tepat dalam menanamkan nilai-nilai nasionalisme pada santri.
3)   Bagi peneliti
Merupakan pengalaman dan pengetahuan dimana dari hasil penelitian tersebut dapat dijadikan pedoman untuk meningkatkan ilmu.
4)   Bagi pengembangan ilmu
Hasil penelitian ini dapat bermanfaat dalam membagi pengetahuan dan mengembangkan pemahaman suatu pihak yang berkepentingan dengan penanaman nilai nasionalisme.

F.       BATASAN ISTILAH
1.    Penanaman
Penanaman adalah proses, cara, perbuatan menanam, menanami atau menanamkan (KBBI, 2007: 1134). Yang dimaksud penanaman disini adalah suatu usaha yang dilakukan Pondok Pesantren Al Asror kepada para santri, dalam rangka menumbuhkan dan membentuk kepribadian yang baik sesuai dengan nilai-nilai nasionalisme bangsa Indonesia.
2.    Nilai
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2007:783), Nilai dapat berarti: (1) banyak sedikitnya isi, kadar, mutu; (2) sifat-sifat (hal-hal) yang penting bagi kemanusiaan; (3) Sesuatu yang menyempurnakan manusia sesuai dengan hakikatnya.  
3.    Nasionalisme
Istilah nasionalisme yang telah diserap ke dalam bahasa Indonesia memiliki dua pengertian: (1) Paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan negara sendiri (2) Kesadaran keanggotan dalam suatu bangsa yang secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabadikan identitas, integritas, kemakmuran, dan kekuatan bangsa (Arizal, 2008). Nilai nasionalisme adalah suatu sifat yang penting  bagi bangsa Indonesia yang  di dalamnya mengandung ajaran-ajaran untuk mencintai, memiliki ataupun memelihara kehormatan bangsa dan negara yang bersumber pada semangat Pancasila dan Proklamasi  17 Agustus 1945.
G.      LANDASAN TEORI
1.    Nasionalisme
a.    Sejarah Nasionalisme
Nasionalisme merupakan sebuah penemuan sosial yang paling besar dalam sejarah manusia, terutama dalam satu abad terakhir. Tanpa adanya nasionalisme, perjalanan sejarah umat manusia akan berbeda jauh dengan keadaan sekarang. Sebagai konsep sosial, nasionalisme tidak muncul begitu saja, melainkan muncul melalui proses evolusi makna bahasa. Dalam studi semantik Guido Zernatto (1944), kata nation berasal dari kata Latin natio yang berakar pada kata nascor saya lahir. Selama Kekaisaran Romawi, kata natio digunakan untuk merendahkan warga asing. Setelah beberapa ratus tahun kemudian, tepatnya pada Abad Pertengahan, kata nation digunakan sebagai nama kelompok pelajar asing di universitas-universitas (seperti Permias untuk mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat sekarang). Kata nation mendapat makna baru yang lebih positif dan menjadi umum dipakai setelah abad ke-18 di Perancis. Ketika itu Parlemen Revolusi Prancis menyebut diri mereka sebagai Assemblee Nationale yang menandai transformasi institusi politik tersebut, dari sifat eksklusif yang hanya diperuntukkan bagi kaum bangsawan ke sifat egaliter di mana semua kelas meraih hak yang sama dengan kaum kelas elite dalam berpolitik. Dari peristiwa Revolusi Perancis tersebut, makna kata nation berubah seperti sekarang yang merujuk pada bangsa atau kelompok manusia yang menjadi penduduk resmi suatu Negara (Tjahyadi, 2010).
Sebelum abad ke-17, belum terbentuk satu negara nasional pun di benua Eropa. Yang ada hanyalah kekuasaan kekaisaran-kekaisaran yang meliputi wilayah yang luas, seperti kekaisaran Romawi Kuno atau Kekaisaran Jerman di bawah pimpinan Karolus Agung. Pada intinya, kekuasaan kekaisaran tersabut menyatu dengan kekuasaan gereja Katolik, sehingga masyarakat menerima dan menaati penguasa yang mereka anggap sebagai titisan Tuhan di dunia. Sehingga, kesadaran akan suatu wilayah sebagai milik suku atau etnis tertentu belum terbentuk di Eropa sebelum abad ke-17. Pada awal abad ke-17 terjadi perang besar-besaran selama kurang lebih tiga puluh tahun antara suku bangsa-suku bangsa di Eropa. Misalnya, perang Perancis melawan Spanyol, Prancis melawan Belanda, Swiss melawan Jerman, dan Spanyol melawan Belanda, dan sebagainya. Untuk mengakhiri perang ini suku bangsa yang terlibat dalam perang akhirnya sepakat untuk duduk bersama dalam sebuah perjanjian yang diadakan di kota Westphalia di sebelah barat daya Jerman. Pada tahun 1648 disepakati Perjanjian Westphalia yang mengatur pembagian wilayah dan daerah kekuasaan negara-negara Eropa yang umumnya masih dipertahankan.
Pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19 negara-bangsa (nation-states) mulai lahir. Negara bangsa adalah negara-negara yang lahir karena semangat nasionalisme. Semangat nasionalisme yang pertama muncul di Eropa adalah nasionalisme romantis (romantic nationalism) yang kemudian dipercepat oleh munculnya Revolusi Perancis dan penaklukan daerah-daerah selama era Napoleon Bonaparte. Beberapa gerakan nasionalisme pada waktu ini masih bersifat separatis, karena kesadaran nasionalisme mendorong gerakan untuk melepaskan diri dari kekaisaran atau kerajaan tertentu. Misalnya, setelah kejatuhan Napoleon Bonaparte, Kongres Wina (1814–1815) memutuskan bahwa Belgia yang sebelumnya dikuasai Perancis menjadi milik  Belanda, dan lima belas tahun kemudian menjadi negara nasional yang merdeka. Atau Revolusi Yunani tahun 1821–1829 di mana Yunani ingin melepaskan diri dari belenggu kekuasaan Kekaisaran Ottoman dari Turki. Sementara di belahan Eropa lain, nasionalisme muncul sebagai kesadaran untuk menyatukan wilayah atau daerah yang terpecah belah. Misalnya, Italia di bawah pimpinan Giuseppe Mazzini, Camillo Cavour, dan Giusepe Garibaldi, mempersatukan dan membentuk Italia menjadi sebuah negara-kebangsaan tahun 1848. Di Jerman sendiri, kelompok-kelompok negara kecil akhirnya membentuk sebuah negara kesatuan Jerman dengan nama Prusia tahun 1871 di bawah Otto von Bismarck. Banyak negara kecil di bawah kekuasaan kekaisaran Austria pun membentuk negara bangsa sejak awal abad 19 sampai masa setelah Perang Dunia I. Sementara itu, Revolusi 1917 di Rusia telah melahirkan negara-bangsa Rusia (Arizal, 2008).
Pada awal abad 20 semangat nasionalisme mulai menyebar ke seluruh dunia terutama daerah penjajahan di benua Asia–Afrika, sehingga dari seluruh jajahan tersebut mulai berusaha memperjuangkan kemerdekaannya termasuk Indonesia. Yang pada mulanya menggunakan jalan kekerasan berubah menjadi gerakan yang terorganisasi.
Dilihat dari segi historis tersebut, nasionalisme yang terjadi di Asia-Afrika dan khususnya di Indonesia tidak dapat disamakan dengan nasionalisme yang terjadi di Eropa. Karena nasionalisme Indonesia adalah nasionalisme yang berkeadilan sosial, anti kolonialisme, imperialisme dan kapitalisme. Nasionalisme bangsa Indonesia adalah nasionalisme yang menghendaki penghargaan, penghormatan dan toleransi kepada bangsa atau suku bangsa lain. Sedangkan nasionalisme barat adalah nasionalisme yang mengarah ke nasionalisme sempit (chauvinisme), yang membenci bangsa atau suku bangsa lain, menganggap bangsa sendirilah yang paling bagus, paling unggul sesuai dengan individualisme barat.
b.   Nasionalisme Indonesia
Nasionalisme  atau nationalism berasal dari kata nation, yang berarti bangsa. Latar belakang nasionalisme bangsa-bangsa di dunia sangat beragam. Misalnya India dan Pakistan yang pada dasarnya merupakan bangsa serumpun, namun bangsa tersebut memilih menjadi negara yang berbeda karena pertimbangan agama. Begitu juga Korea Utara dan Korea Selatan yang pada dasarnya merupakan bangsa serumpun, namun keduanya memilih menjadi negara yang berbeda karena perbedaan ideologi. Sedangkan Amerika Serikat dikenal sebagai negara multi etnis, ras dan agama. rakyat Amerika Serikat berasal dari berbagai daerah, mulai dari Eropa, Asia, Afrika, maupun Amerika Latin. Berbagai bangsa tersebut pada awalnya melakukan migrasi untuk mencari kebebasan dan mencoba memperbaiki nasib di Amerika Serikat.
Nasionalisme yang berkembang di Indonesia banyak dipengaruhi gerakan nasionalisme yang tumbuh di Eropa pada abad ke-18 dan 19. Gerakan nasionalisme menjadi salah satu faktor pendorong utama berdirinya Amerika Serikat (1776) dan Republik Perancis (1789). Gerakan nasionalisme mencapai puncaknya  sekitar tahun 1918-1950 dimana terjadi gelombang gerakan nasionalisme di berbagai kawasan Asia dan Afrika, termasuk Indonesia.
Munculnya nasionalisme di Indonesia ditandai dengan tumbuhnya berbagai organisasi pergerakan yang semuanya tidak lepas dari pengaruh yang datang dari dalam maupun dari luar (Wayan, 2006:136).
1)        Pengaruh yang datang dari dalam (internal)
a)        Kenangan kejayaan masa lampau
Sebelum imperialisme bangsa Eropa masuk ke wilayah Indonesia, bangsa Indonesia pernah memiliki negara kekuasaan atau negara nasional yang membawa kejayaan bengsa Indonesia. Misalnya kerajaan Sriwijaya sebagai kerajaan maritim yang mengusai jalur perdagangan dan pelayaran Selat Malaka. Selain itu, Kerajaan Sriwijaya pernah menjadi pusat penyebaran agama Budha di Asia Tenggara. Juga Kerajaan Majapahit di bawah pemerintahan Raja Hayam Wuruk dan dibantu oleh Patih Gajah Mada menjadi sebuah kerajaan yang paling berkuasa di seluruh wilayah Nusantara. Kebesaran Kerajaan Majapahit telah membawa harum bangsa Indonesia di dunia internasional pada masa itu.
b)        Penderitaan dan kesengsaraan akibat imperialisme
Penjajahan yang dilakukan oleh bangsa-bangsa Eropa terhadap bangsa Asia dan Afrika mengakibatkan kesengsaraan dan kemiskinan sehingga mendorong munculnya perlawanan terhadap imperialisme barat.
c)        Munculnya golongan cendekiawan
Perkembangan dunia pendidikan menyebabkan munculnya golongan cendekiawan baik hasil dari pendidikan barat maupun pendidikan Indonesia sendiri. Para cendekiawan ini kemudian menjadi penggerak dan pemimpin munculnya organisasi pergerakan nasional Indonesia yang selanjutnya berjuang untuk melawan penjajahan
2)        Pengaruh yang datang dari luar (eksternal)
a)        Kemenangan Jepang atas Rusia (1905)
Pada tahun 1904-1905 Jepang melawan Rusia dan tentara Jepang berhasil mengalahkan Rusia. Hal ini dikarenakan, modernisasi yang dilakukan Jepang yang telah membawa kemajuan pesat dalam berbagai bidang bahkan dalam bidang militer. Awalnya dengan kekuatan yang dimiliki tersebut Jepang mampu melawan Korea tetapi kemudian dia melanjutkan ke Manchuria dan beberapa daerah di Rusia. Keberhasilan Jepang melawan Rusia inilah yang mendorong lahirnya semangat bangsa-bangsa Asia Afrika mulai bangkit melawan bangsa asing di negerinya.
b)        Berkembangnya nasionalisme di berbagai negara
(1)          Pergerakan Kebangsaan India
Dalam menghadapi penjajahan Inggris, kaum pergerakan rakyat India membentuk sebuah organisasi kebangsaan yang dikenal dengan nama All India National Congres. Salah satu tokoh pendirinya  yang terkenal adalah Mahatma Gandhi yang memiliki dasar perjuangan yaitu: Ahimsa (dilarang membunuh), yaitu gerakan anti peperangan, Hartal yaitu suatu gerakan rakyat India dalam bentuk aksi yang tidak melakukan apapun meski mereka masuk masuk kantor atau pabrik dan sebagainya, Satyagraha yaitu suatu gerakan untuk tidak bekerjasama dengan pemerintah kolonial Inggris dan swadesi yaitu gerakan untuk memakai barang-barang buatan negeri sendiri.
(2)           Pergerakan Turki Muda(1908)
Gerakan ini dipimpin oleh Mustafa Kemal Pasha yang menuntut adanya pembaharuan dan modernisasi di segala sektor kehidupan masyarakat.
(3)           Pergerakan Nasionalisme Mesir
Gerakan ini dipimpin oleh Arabia Pasha (1881-1882) dengan tujuan menentang kekuasaan bangsa Eropa terutama Inggris atas negara Mesir.
c)        Munculnya paham-paham baru
Munculnya paham-paham baru di luar negeri seperti nasionalisme, liberalisme, sosialisme, demokrasi dan pan- islamisme juga menjadi dasar berkembangnya paham-paham yang serupa di Indonesia. Perkembangan paham-paham tersebut terlihat pada penggunaan ideologi-ideologi (paham) pada organisasi pergerakan nasional yang ada di Indonesia.
Dengan berkembangnya pergerakan nasional di berbagai daerah terutama di Asia dan Afrika, telah membawa dampak yang sangat besar terhadap perjuangan rakyat Indonesia dalam menentang kekuasaan kolonial Belanda. Gerakan-gerakan yang muncul di Indonesia ditandai dengan munculnya organisasi-organisasi  modern yang didirikan oleh kalangan pelajar. Meskipun memiliki berbagai nama organisasi, namun tujuan akhir dari setiap organisasi modern tersebut adalah terlepas dari kekuasaan penjajahan kolonial Belanda atau memerdekakan bangsa Indonesia.
Sebelum munculnya organisasi-organisasi tersebut, salah satu upaya yang dilakukan untuk menumbuhkan rasa nasionalisme bangsa adalah dimulai dengan pembentukan identitas nasional yaitu adanya penggunaan istilah “Indonesia” untuk menyebut bangsa atau tanah air. Sebelum muncul istilah Indonesia (identitas nasional), segala bentuk perjuangan bangsa masih bersifat kesukuan dan kedaerahan. Akibatnya, semua bentuk perlawanan sangat mudah dipatahkan karena bangsa ini sulit untuk bersatu dalam mengusir para penjajah. Sebelum berganti nama menjadi Indonesia, bangsa ini mengalami beberapa pergantian nama atau sebutan, diantaranya sebagai berikut:

1)        Pada abad ke-4 Masehi dalam kitab Ramayana, tanah air ini sering di sebut dengan Dvipanta atau Dwipantara yang berasal dari kata dvipa atau dwipa yang berarti pulau-pulau. Serta kata antara tang diartikan wilayah yang berada di antara. Jadi Dvipantara atau Dwipantara diartikan sebagai kepulauan di antara muara Sungai Gangga dan Samudra Teduh (Samudra Pasifik).

2)        Menurut prasasti Gunung Wilis (1269 M), pada zaman Prabu Kertanegara dari kerajaan Singasari, ditemukan istilah Nusantara yang terbentuk dari kata nusa yang berarti pulau atau kepulauan dan antara. Nusantara berarti kepulauan di antara Pulau Nicobar dan Pulau Bismark yang menjalin hubungan persahabatan dengan Kerajaan Singasari di Jawa Timur.

3)        Dalam buku Negarakertagama (1365 M) ditemukan istilah Nuswantara, yang dimaksudkan pula-pulau Majapahit yang berada diluar yang telah dikuasai dan bersahabat dengan Majapahit. Selanjutnya oleh Mahapatih Gajah Mada, gugusan kepulauan dinamakan Mandala Nuswantara.

4)        Menurut Sejarah Melayu dikenal dengan istilah Nusa Tamara yang ternyata sebutan lain Nusantara. (Hutagalung, 2006)
Sebelum bernama Indonesia, orang-orang Eropa telah memiliki beragam sebutan tunggal untuk mengidentifikasi berbagai daerah seperti Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Maluku dan Papua. Ada yang menamakannya dengan The Indies’, The East Indies’, The Indies Possesions’, ‘Insulinde’ (the islands of the Indies), ‘Tropisch Netherland’ (the tropical Netherland), atau ‘The Netherland (East) Indies’.
Selain nama-nama tersebut, ada pula yang menyebut nama-nama lain untuk kepulauan ini, yang umumnya digunakan oleh mereka yang bukan berasal dari Belanda, seperti ‘Oceanie’, ‘Oceania’, dan ‘Malasia’ (Perancis), ‘the Eastern Seas’, ‘the Eastern Island’, dan ‘the Indian Archipelago’. Ada juga bangsa-bangsa selain Eropa yang memberikan macam-macam nama, namun pada dasarnya wilayah yang dimaksud merupakan wilayah yang sama
Kemudian pada tahun 1847 lahirlah sebuah jurnal yang berkedudukan di Singapura yang khusus meneliti dinamika kehidupan di kawasan yang sekarang bernama Indonesia, jurnal tersebut bernama The Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA) yang dikelola oleh seorang warga Skotlandia yang bernama James Richardson Logan (1819-1869), Kemudian pada tahun 1849 seorang ahli etnologi berkebangsaan Inggris, George Samuel Windsor Earl (1813–1865), ikut menggabungkan diri sebagai seorang redaksi majalah JIAEA. (Hutagalung, 2006)
Dalam JIAEA volume IV tahun 1850, halaman 66-74, Earl menulis sebuah artikel yang berjudul On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations (Pada Karakteristik Terkemuka dari Bangsa-bangsa Papua, Australia dan Melayu-Polinesia). Dalam artikel tersebut, Earl menegaskan bahwa sudah tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu untuk memiliki nama khas, karena nama Hindia kurang tepat dan sering rancu dengan penyebutan India yang lain. Earl kemudian mengajukan dua pilihan nama: Indunesia atau Malayunesia.
"... the inhabitants of the Indian Archipelago or Malayan Archipelago would become respectively Indunesians or Malayunesians". ("... Penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu masing-masing akan menjadi "Orang Indunesia" atau "Orang Malayunesia") (Hutagalung, 2006).

Pada majalah yang sama, James Richardson Logan juga menuliskan sebuah artikel yang berjudul The Ethnology of the Indian Archipelago (Etnologi dari Kepulauan Hindia) dimana untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di dunia
“The name Indian Archipelago is too long to admit of being used in an adjective or in an ethnographical form. Mr Earl suggest the ethnographical term Indu-nesians but reject it in favour of Malayunesians. For reasons which will be obvious on reading a subsequent note, I prefer the purely geographical term Indonesia, which is merely a shorter synonym for the Indian Islands or the Indian Archipelago. We thus get Indonesian for Indian Archipelagian or Archipelagic, and Indonesians for Indian Archipelagians or Indian Islander,” (Nama Indian Archipelago terlalu panjang untuk dapat digunakan dalam sebuah kata sifat atau dalam suatu bentuk etnografi. Pak Earl menyarankan istilah etnografi Indu-nesians, dan menolaknya untuk lebih mendukung istilah Malayunesians. Dengan alasannya yang akan saya susulkan, saya lebih senang dengan istilah geografis yang murni ‘Indonesia’, yang merupakan sinonim lebih pendek untuk ‘Indian Islands’ atau ‘Indian Archipelago’. Dengan demikian, kita mendapatkan ‘Indonesian’ untuk  ‘Indian Archipelagian atau Archipelagic’, dan Indonesians untuk ‘Indian Archipelagians’ atau ‘India Islanders’) (Hutagalung, 2006).

Pada awal tulisannya, Logan menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan tanah air, sebab istilah Indian Archipelago (Kepulauan Hindia) terlalu panjang dan membingungkan. Kemudian Logan  mengambil nama Indunesia yang dibuang Earl, dan diubah menjadi Indonesia agar ucapannya lebih baik dan lebih mudah.
Kata Indonesia sendiri berasal dari kata dalam bahasa Latin yaitu Indos yang berarti “Hindia atau India” dan kata dalam bahasa Yunani nesos yang berarti “pulau”. Kata Indonesia berarti wilayah Hindia kepulauan, atau kepulauan yang berada di Hindia, yang menunjukkan bahwa nama ini terbentuk jauh sebelum Indonesia menjadi negara berdaulat.
Warga pribumi yang pertamakali menggunakan istilah Indonesia adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika dibuang ke negeri Belanda tahun 1913 yang kemudian beliau juga mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Pers-bureau.
Pada bulan Agustus 1939 tiga orang anggota Volksraad (Dewan Rakyat Hindia Belanda), yaitu Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho Purbohadidjojo dan Sutardjo Kartohadikusumo, mengajukan mosi kepada Pemerintah Hindia Belanda agar nama Indonesia diresmikan sebagai pengganti nama Nederlandsch-Indie (Hindia Belanda), tetapi pemerintah Belanda menolak mosi tersebut.
Pada  tanggal 8 Maret 1942 setelah bangsa ini jatuh ke tangan Jepang, nama Hindia Belanda langsung hilang, yang kemudian lahirlah bangsa Indonesia.
Kemudian istilah Indonesia tersebut, selanjutnya digunakan sebagai identitas nasional, lambang perjuangan bangsa dalam menentang penjajahan, sehingga mampu mempersatukan bangsa dalam melakukan perjuangan dan pergerakan melawan penjajahan, sehingga segala bentuk perjuangan dilakukan demi kepentingan nasional Indonesia bukan atas nama daerah.
c.    Nasionalisme Pancasila
Latar belakang timbulnya paham nasionalisme atau paham kebangsaan Indonesia tidak terlepas dari situasi politik yang terjadi di Indonesia. Nasionalisme di Indonesia mulai muncul sejak adanya suatu peristiwa yang dikenal dengan zaman pergerakan nasional. Hal  ini ditandai dengan didirikannya suatu organisasi yang bernama Budi Utomo pada tanggal 20 Mei 1908  sebagai salah satu organisasi pertama yang diakui oleh Pemerintah Belanda. Bukti ini bukan karena format atau kegiatannya, tetapi karena kebutuhan akan identitas, solidaritas, kemandirian, dan kesadaran kolektifnya. Sejak berdirinya Budi Utomo, perkembangan nasionalisme Indonesia menjadi sangat cepat. Hal ini ditandai dengan munculnya berbagai organisasi pergerakan yang mempunyai satu tujuan yang sama yaitu mencapai kemerdekaan atau membebaskan bangsa Indonesia dari belenggu kolonialisme.
Kemudian pada tanggal 28 Oktober 1928 para pemuda dari berbagai suku di Indonesia berkumpul melakukan suatu ikrar tentang pentingnya nasionalisme  yang telah tumbuh sejak puluhan tahun dalam perjuangan melawan kolonialisme Belanda yang kemudian dikenal sebagai sumpah pemuda. Setelah ikrar sumpah pemuda terlaksana, upaya yang dilakukan selanjutnya yaitu menyatukan seluruh suku di Indonesia melalui suatu ideologi pemersatu dengan tujuan untuk melawan segala bentuk penjajahan. Kalau suku-suku di kepulauan nusantara tidak memiliki suatu ideologi yang mampu menyatukan segala komponen bangsa, hal ini akan berakibat para penjajah dapat dengan mudah menguasai nusantara. Dengan demikian, sangat mungkin orang-orang di nusantara akan saling berperang sendiri. Karena kaum penjajah sering menggunakan taktik permusuhan dan adu domba supaya konflik antar suku terus terjadi.
Pada tanggal 17 Agustus 1945 perjuangan bangsa Indonesia melawan bangsa penjajah telah mencapai titik kulminasi, yang ditandai dengan dibacakannya teks proklamasi kemerdekaan yang kemudian melahirkan Republik Indonesia. Hal ini sebagai bukti puncak perjuangan bangsa Indonesia telah terlaksana, dan sekaligus menyatakan kepada dunia bahwa Indonesia telah menjadi negara yang berdaulat, merdeka, dan mandiri. Setelah proklamasi terlaksana dengan lancar, untuk memperkuat kedudukan bangsa Indonesia sebagai negara merdeka, disahkanlah UUD 1945 pada tanggal 18 Agustus 1945 yang menjadi simbol kekuasaan besar revolusioner Indonesia yang mengandung persamaan dan persaudaraan.  Dalam penjelasan UUD 1945 tersebut dinyatakan bahwa pembukaan UUD 1945 mengandung empat pokok pikiran, yakni : pokok pikiran persatuan yang merupakan dasar negara, pokok pikiran keadilan sosial yang merupakan tujuan negara, pokok pikiran kedaulatan rakyat yang merupakan sistem negara, dan pokok pikiran Ketuhanan Yang Maha Esa dan kemanusiaan yang merupakan fundamen moral negara (Amanda dkk, 2010:14).
Dalam pokok pikiran persatuan mengandung inti dasar negara yang sekaligus merupakan dasar yang utama untuk mewujudkan nasionalisme Indonesia atau disebut juga dengan nasionalisme Pancasila.
Setelah nasionalisme Indonesia melahirkan Pancasila sebagai ideologi. Maka, seluruh bangunan nasionalisme bangsa Indonesia harus dijalankan sesuai dengan nilai-nilai nasionalisme yang telah diperjuangkan oleh para pendiri bangsa, baik untuk sekarang maupun untuk selanjutnya, sampai waktu yang tidak terbatas. Nilai-nilai nasionalisme yang terkandung dalam pancasila adalah nasionalisme yang menolak segala bentuk diskriminasi, penjajahan, penindasan, ketidakadilan, serta pengingkaran atas nilai-nilai ketuhanan, sebagaimana yang terkandung dalam Pancasila (Amanda dkk, 2010:15).
Pada prinsipnya nasionalisme Pancasila adalah pandangan atau paham kecintaan manusia Indonesia terhadap bangsa dan tanah airnya yang didasarkan pada nilai-nilai Pancasila. Prinsip nasionalisme bangsa Indonesia dilandasi nilai-nilai Pancasila yang diarahkan agar bangsa Indonesia senantiasa:
1)          Menempatkan persatuan – kesatuan, kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau kepentingan golongan.
2)          Menunjukkan sikap rela berkorban demi kepentingan bangsa dan negara.
3)          Bangga sebagai bangsa Indonesia dan bertanah air Indonesia serta tidak merasa rendah diri.
4)          Mengakui persamaan derajat, persamaan hak dan kewajiban antara sesama manusia dan sesama bangsa.
5)          Menumbuhkan sikap saling mencintai sesama manusia.
6)          Mengembangkan sikap tenggang rasa.
7)          Tidak semena-mena terhadap orang lain.
8)          Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
9)          Senantiasa menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.
10)    Berani membela kebenaran dan keadilan.
11)    Merasa bahwa bangsa Indonesia merupakan bagian dari seluruh
 umat manusia.
12)    Menganggap pentingnya sikap saling menghormati dan bekerja sama dengan bangsa lain (Tjahyadi, 2010).
d.   Pengertian Nilai-Nilai Nasionalisme
Nilai adalah sesuatu yang abstrak dan tidak dapat disentuh oleh panca indera. Yang dapat di tangkap adalah barang perbuatan yang mengandung nilai itu. Secara garis besar Nilai dapat dibagi menjadi menjadi dua (Budiyanto, 2005:146).
1)      Nilai sebagai suatu subjek
Nilai yang dimaksud adalah tingkat atau derajat yang diinginkan oleh manusia. Nilai merupakan tujuan dari kehendak manusia yang di susun menurut tingkatan dari bawah, yaitu mulai dari nilai kenikmatan, kegunaan, kemuliaan, sampai pada tingkatan yang tertinggi yakni nilai kesucian.
2)      Nilai sebagai suatu objek
Merupakan suatu hal yang objektif atau yang ada pada objek itu sendiri, yang menjadi ukuran tertinggi dari perilaku manusia.
Pengertian mengenai nasionalime memiliki banyak arti. Berikut merupakan beberapa pengertian tentang  nasionalisme (Mantiri, 2011).
1)    Ernest Renan: “Nasionalisme adalah kehendak untuk bersatu dan bernegara”
2)    L. Stoddard: Nasionalisme adalah suatu keadaan jiwa dan suatu kepercayaan, yang dianut oleh sejumlah besar individu sehingga mereka membentuk suatu kebangsaan. Nasionalisme adalah rasa kebersamaan segolongan sebagai suatu bangsa”.
3)    Hans Kohn: Nasionalisme menyatakan bahwa negara kebangsaan adalah cita-cita dan satu-satunya bentuk sah dari organisasi politik, dan bahwa bangsa adalah sumber dari semua tenaga kebudayaan kreatif dan kesejahteraan ekonomi”.
4)         Ernest Gellner: nationalism is primarily a political principle that holds that the political and the national unit should be congruent  (Nasionalisme terutama prinsip politik yang menyatakan bahwa politik dan unit nasional harus kongruen)
5)          Richard Handler (Profesor Anthropology dari University of Virginia): nationalism is an ideology about individuated being. It is an ideology concerned with continuity, and homogeneity encompassing diversity. It is an ideology in which social reality, conceived in terms of nationhood, is endowed with the reality of natural things(nasionalisme adalah ideologi untuk menjadi seorang individu. Ideologi ini adalah ideologi yang peduli dengan kontinuitas, dan keragaman yang meliputi homogenitas. Ini adalah ideologi di mana realitas sosial, dipahami dalam hal kebangsaan, diberkahi dengan realitas benda-benda alam).
6)         Nasionalisme adalahSuatu gerakan ideologis untuk mencapai dan mempertahankan otonomi, kesatuan, dan identitas bagi suatu populasi, yang sejumlah anggotanya bertekad untuk membentuk suatu bangsa yang aktual atau bangsa yang potensial” (smith, 2002:11).
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa nilai-nilai nasionalisme mempunyai arti tentang seberapa besar cinta tanah air yang ada pada tiap-tiap individu. Dengan nasionalisme, negara menjadi milik rakyat secara keseluruhan dan rakyat dalam hubungan ini menjadi bangsa. Karena itu, nasionalisme dapat dipandang sebagai landasan ideal dari kesetiaan terhadap negara.
Nasionalisme merupakan suatu peristiwa sejarah yang bersifat kontekstual (meruang dan mewaktu), sehingga nasionalisme di suatu daerah dengan daerah lain atau antar zaman tidaklah sama. Misalnya saja bagi negara yang sudah lama merdeka, nasionalisme dapat mengarah pada imperialisme. Biasanya nasionalismenya bersifat konservatif. Bagi negara semacam ini akan mempersulit timbulnya nasionalisme di daerah-daerah jajahannya. Sedangkan bagi negara yang masih terjajah nasionalismenya bersifat revolusioner dan progresif. Dengan demikian,  tumbuh dan berkembangnya nasionalisme sangat dipengaruhi oleh nasionalisme yang dianut kelompok dominan suatu bangsa. (Arizal, 2008)
Gerakan nasionalisme pada awalnya lebih menekankan pada kesetiaan dan menjaga keutuhan negara. Namun kemudian, berkembang menjadi sikap untuk menguasai wilayah lain. Hal ini disebabkan adanya suatu bangsa yang merasa dirinya sebagai negara paling kuat dan berpengaruh. Sikap yang berlebihan ini dikenal dengan istilah ultranasionalisme.
Gerakan ultransionalisme ini diwujudkan dalam bentuk menguasai bangsa-bangsa lain. Contohnya bangsa Belanda yang menjajah bangsa Indonesia.
Selain adanya gerakan ultransionalisme, nasionalisme dapat pula mengarah pada chauvinisme, yaitu paham yang menganggap dirinya sebagai suatu bangsa yang terbaik. Sedangkankan bangsa yang lain adalah bangsa dibawahnya. Contohnya Jerman pada waktu diperintah Adolf Hitler.
Dari bebrapa penjelasan diatas, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa nasionalisme atau paham kebangsaan secara garis besar dapat dibagi menjadi menjadi dua, yaitu:
1)        Nasionalisme dalam arti sempit
Artinya mencintai bangsa sendiri secara berlebihan sehingga menganggap bangsa yang lain lebih rendah. nasionalisme yang sempit ini yang sempit ini sering disebut Chauvinisme.
2)        Nasionalisme dalam arti luas
Artinya cinta bangsa sendiri tanpa memandang rendah bangsa lain karena merasa bagian dari bangsa-bangsa di dunia.
e.    Bentuk-bentuk Nasionalisme
Nasionalisme adalah suatu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara  dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia. Nasionalisme merupakan rasa cinta terhadap tanah air dengan semangat mempertahankan kedaulatan bangsa. Nilai-nilai nasionalisme yang tertanam pada tiap-tiap warga negara merupakan salah satu faktor penting bagi kuatnya sebuah negara. Semakin banyak orang yang sadar akan nilai-nilai nasionalisme maka akan semakin kuat pada negara yang bersangkutan.
Bentuk nasionalisme di setiap negara memiliki banyak perbedaan, semuanya tergantung dari sejarah dan awal terbentunya negara tersebut. Nasionalisme yang ada di dunia ini secara umum terdiri atas beberapa bentuk, diantaranya adalah sebagi berikut:
1)        Nasionalisme kewarganegaraan (nasionalisme sipil) adalah nasionalisme yang terbentuk karena negara memperoleh kebenaran politik dari partisipasi aktif rakyatnya. Teori ini mula-mula dibangun oleh Jean-Jacques Rousseau dan menjadi bahan-bahan tulisan. Antara lain tulisan yang terkenal adalah buku berjudul Du Contract Sociale (Mengenai Kontrak Sosial).
2)        Nasionalisme etnis adalah nasionalisme di mana negara memperoleh kebenaran politik dari budaya asal atau etnis sebuah masyarakat. Nasionalisme ini dibangun oleh Johann Gottfried von Herder, yang memperkenalkan konsep Volk (bahasa Jerman untuk "rakyat"). Misalnya seorang yang bersuku Jawa, akan selalu menggunakan bahasa Jawa karena orang tua dan nenek moyangnya bersuku Jawa  dan bahasa tersebut digunakan oleh orang tuanya dan orang sebelumnya.
3)        Nasionalisme romantik (nasionalisme organik atau nasionalisme identitas) adalah nasionalisme etnis yang terbentuk karena negara memperoleh kebenaran politik secara alami (organik) hasil dari bangsa atau ras, menurut semangat romantisme. Nasionalisme romantik menitikberatkan pada budaya etnis yang sesuai dengan idealisme romantik. Contohnya cerita rakyat folklore "Grimm Bersaudara" yang dinukilkan oleh Herder merupakan koleksi kisah-kisah yang berkaitan dengan etnis Jerman.
4)        Nasionalisme budaya adalah nasionalisme yang terbentuk karena negara memperoleh kebenaran politik dari budaya bersama dan dan tidak bersifat turun-temurun seperti warna kulit, ras dan sebagainya. Contoh yang terbaik ialah rakyat Cina yang menganggap negara adalah berdasarkan kepada budaya. Unsur ras telah dikesampingkan di mana golongan Manchu serta ras-ras minoritas lain masih dianggap sebagai rakyat negara Cina. Kesediaan dinasti Qing untuk menggunakan adat istiadat Cina membuktikan keutuhan budaya Cina.
5)        Nasionalisme kenegaraan ialah variasi nasionalisme kewarganegaraan, yang sering digabungkan dengan nasionalisme etnis. Dalam nasionalisme kenegaraan bangsa adalah suatu komunitas yang memberikan kontribusi terhadap pemeliharaan dan kekuatan negara. Contoh nasionalisme kenegaraan adalah fasisme di Italia yang menganut slogan Mussolini: Tutto nello stato, niente al di fuori dello stato, nulla stato do contro (semuanya didalam negara, tidak ada satupun yang di luar negara, tidak ada satupun yang menentang negara). Nasionalisme jenis ini bertentangan dengan kebebasan individu dan demokrasi.
6)        Nasionalisme agama ialah nasionalisme dimana negara memperoleh legitimasi politik dari persamaan agama. Misalnya, di Irlandia semangat nasionalisme bersumber dari persamaan agama mereka yaitu Katolik, nasionalisme di India seperti yang diamalkan oleh pengikut partai BJP yang bersumber dari agama Hindu. (Arizal, 2008).
Sedangkan menurut Hans Kohn, nasionalisme dapat dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu:
1)        Nasionalisme Liberal, yaitu nasionalisme yang memperjuangkan kemerdekaan perseorangan, contohnya adalah nasionalisme di Inggris dan Amerika.
2)        Nasionalisme Kerakyatan, yaitu nasionalisme yang memperjuangkan kebebasan kolektif yang berkembang menuju pada kesetiaan rakyat mengatasi kesetiaan kepada perseorangan, contohnya adalah nasionalisme Perancis yang berlandaskan pada prinsip persamaan, kemerdekaan dan persaudaraan dan nasionalisme Indonesia yang berlandaskan kedaulatan rakyat yang berdasarkan pancasila.
3)        Nasionalisme Totaliter atau Integral, yaitu nasionalisme yang mengedepankan kekuatan dan keutamaan mutlak masyarakat nasional daripada individu, dan menyatakan perlu adanya aksi yang tegas oleh suatu barisan pelopor yang bersatu, disiplin dan lengkap persenjataanya terhadap suatu elit yang pada suatu saat menentukan akan merebut kekuasaanya, contohnya adalah nasionalisme Jerman zaman Nazi dan nasionalisme Italia zaman Fasisme.
d.   Nilai-Nilai Nasionalisme Dalam Kehidupan Sehari-hari
Menumbuhkan nilai-nilai nasionalisme berarti usaha sesorang untuk mengembangkan sejumlah sikap dan perilaku kepada orang lain dalam hal ini adalah anak didik. Usaha mengembangkan sikap dan perilaku sesuai dengan sikap dan perilaku yang dimaksud adalah kesetiaan yang diabadikan kepada negara dan bangsa serta cinta tanah air Indonesia.
Untuk mengetahui adanya nilai-nilai nasionalisme pada  generasi muda dapat dilihat dari tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari. Adapun beberapa contoh sikap atau tingkah laku yang mencerminkan nilai-nilai nasionalisme pada generasi muda antara lain:
1)        Menjunjung tinggi nilai-nilai persatuan dan kesatuan bangsa
2)        Mematuhi dan mentaati segala peraturan negara.
3)        Ikut berpartisipasi dalam suatu kegiatan yang berguna untuk memajukan bangsa dan negara.
4)        Belajar dengan sungguh-sungguh demi kemajuan bangsa dan negara.
5)        Mematuhi dan menghayati nilai-nilai yang ada pada UUD 1945 dan Pancasila.
6)        Bertindak secara teratur, menyeluruh, terpadu, dan berlanjut yang dilandasi oleh kecintaan pada tanah air.
7)        Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama diatas kepentingan pribadi dan golongan.
Dari beberapa contoh diatas, dapat disimpulakan kriteria dari prinsip-prinsip nasionalisme yang perlu dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari baik dalam kehidupan keluarga, masyarakat maupun negara antara lain (Abubakar, 1995:36):
1)        Kebersamaan
Penerapan nilai kebersamaan dalam kehidupan menuntut kepada setiap orang untuk mengendalikan diri, yaitu untuk mengarahkan aktivitas pribadinya menuju kehidupan yang selaras, serasi, dan seimbang demi tercapainya kehidupan bersama yang bahagia, adil makmur, dan sejahtera lahir batin. Nilai kebersamaan menuntut orang atau manusia meletakkan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau golongan.
2)        Persatuan
Penerapan nilai persatuan dan kesatuan dalam kehidupan dapat berwujud kesetiaan tertinggi setiap warga negara yang ditujukan hanya kepada negara. Kepentingan pribadi atau golongan yang dapat menimbulkan perpecahan tiap warga negara perlu dikesampingkan.
3)        Demokrasi atau Demokratis
Penerapan nilai demokratis memandang setiap warga negara mempunyai kedudukan hak dan kewajiban yang sama. Kepentingan bersama yang mengutamakan kepentingan bangsa dan negara yang tumbuh dan berkembang dari bawah untuk bersedia hidup sebagai bangsa yang merdeka, bersatu, berkedaulatan adil dan makmur.
e.  Nilai-Nilai Nasionalisme Bersumber Dari Nilai-Nilai Pancasila
Pada dasarnya, nasionalisme merupakan suatu ideologi yang didalamnya mengandung unsur kognitif akan situasi atau fenomena sosial, politik, dan budaya bangsa. Menurut James G. Kellas (1998) sebagai suatu ideologi, nasionalisme membangun kesadaran rakyat sebagai sebuah bangsa serta memberi seperangkat sikap dan program tindakan. Tingkah laku seorang nasionalis selalu berdasarkan pada perasaan untuk menjadi bagian dari suatu komunitas bangsa atau negara. (Tjahyadi, 2010)
Pancasila sebagi pandangan hidup dan dasar negara telah membawa konsekuensi logis bahwa nilai-nilai pancasila harus menjadi landasn pokok dalam sendi kehidupan bernegara. Pengakuan pancasila sebagai pandangan hidup bangsa mengharuskan segala komponen bangsa untuk mentransformasikan nilai-nilai pancasila kedalam sikap dan perilaku nyata baik dalam perilaku hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Tanpa adanya transformasi nilai-nilai tersebut dalam kehidupan nyata, maka pancasila hanya tinggal nama tanpa makna (Soegito, 2011 :76).
1)        Nilai Ketuhana Yang Maha Esa
Nilai Ketuhanan Yang Maha Esa mengandung arti keyakinan dan pengakuan yang diekspresikan dalam bentuk perbuatan terhadap Zat Yang Maha Tunggal tiada duanya. Ekspresi dari nilai Ketuhanan Yang Maha Esa, menuntut manusia Indonesia untuk bersikap hidup, berpandangan hidup dan taaat kepada ajarannya (Soegito, 2011 :76).
2)        Nilai Kemanusiaan Yang adil dan Beradab
Nilai Kemanusiaan Yang adil dan Beradab mengandung arti kesadaran sikap dan perilaku yang sesuai dengan nilai moral dalm hidup bersama atas dasar tuntutan mutlak hati nurani dengan memperlakukan sesuatu sebagaimana mestinya. Hal yang perlu diperhatikan dan merupakan dasar hubungan semua umat manusia dalam mewujudkan nilai kemanusiaan yang adil dan beradab adalah pengakuan hak asasi manusia. Manusia harus diakui dan diperlakukan sesuaia dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk tuahn Yang Maha esa yang sama derjatnya, yang sama hak dan kewajibannya (Soegito, 2011 :76).
3)        Nilai Persatuan Indonesia
Nilai Persatuan Indonesia mengandung arti usaha ke arah bersatu dalam kebulatan rakyat untuk membina nasionalisme dalam negara. Nilai Persatuan Indonesia yang demikian itu merupakan suatu proses untuk terwujudnya nasionalisme. Dengan modal dasar nilai persatuan, semua warga negara Indonesia baik yang asli maupun keturunan asing dan dari macam-macam suku bangsa dapat menjalin kerjasama yang erat dalam terwujudnya gotong royong dan kebersamaan.
Dalam nilai Persatuan Indonesia, terkandung adanya perbedaan-perbedaan yang biasa terjadi di dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Baik itu perbedaan bahasa, budaya, adat istiadat, agama, maupun suku. Perbedaan-perbedaan itu jangan dijadikan alasan untuk berselisih, tetapi manjadi daya tarik kearah kerjasama yang lebih harmonis. Hal ini sesuai dengan semboyan “Bhineka Tunggal Ika” (Soegito, 2011 :77).
4)        Nilai Kerakyatan yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan
Nilai Kerakyatan yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan mengandung arti bahwa suatu pemerintahan rakyat dengan cara melalui badan-badan tertentu yang dalam menetapkan suatu peraturan ditempuh dengan jalan m usyawarah untuk mufakat atas dasar kebenaran dari Tuhan dan putusan akal sesuai dengan rasa kemanusiaan yang memperhatikan dan mempertimbangkan kehendak rakyat untuk mencapai kebaikan hidup bersama.
Nilai demokrasi dalam sila keempat ini harus diwujudkan juga dalam bidang ekonomi, seperti perwujudan kesejahteraan bersama sebagai pencerminan sila keemapat. Dalam hal ini, rakyat dilihat dari kedudukannya sebagai pendukung kepentingan atau keperluan hidup. Dengan demikian, demokrasi keadilan sosial ini mempunyai kebutuhan atau kepentingan hidup (Soegito, 2011 :77).
5)        Nilai keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia
Makna yang terkandung dalam sila kelima ini adalah suatu tata msyarkat adil dan makmur dan sejahtera lahiriah batiniah, yang setiap warga negara mendapatkan segala sesuatu yang telah menjadi haknya sesuai dengan esensi adil dan beradab. Sila keadilan sosila bagi seluruh rakyat Indonesia dalam wujud pelaksanaannya adalah bahwa setiap warga negara harus mengembangkan sikap adil terhadap sesama, menjaga keseimbangan, keserasian, keselarasan, antara hak dan kewajiban serta menghormati hak-hak orang lain (Soegito, 2011 :78).
f.     Penanaman Nilai-nilai Nasionalisme
Melihat kondisi banyaknya penyimpangan dikalangan remaja dan generasi muda saat ini yang begitu kuat, menjadikan tugas yang diberikan oleh para pendidik dan perancang didalam penanaman nilai nasionalisme sangat berat. Banyak generasi muda yang mulai kehilangan kepribadian diri sebagai bangsa Indonesia.
Hal ini ditunjukkan dengan gejala-gejala yang muncul dalam kehidupan sehari-hari anak muda sekarang. gaya hidupnya cenderung meniru budaya barat yang jelas-jelas bertentangan dengan budaya bangsa Indonesia. Dilihat dari sikap, banyak generasi muda yang tingkah lakunya tidak mengenal sopan santun dan cenderung memiliki rasa tidak peduli terhadap lingkungan. Pengaruh-pengaruh tersebut memang tidak secara langsung berpengaruh terhadap nasionalisme. Akan tetapi secara keseluruhan dapat menimbulkan rasa nasionalisme terhadap bangsa menjadi berkurang atau hilang.
Secara garis besar hilangnya sikap nasionalisme di kalangan generasi muda disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal:
1)        Faktor internal
a)        Sikap keluarga dan lingkungan sekitar yang tidak mencerminkan rasa nasionalisme, sehingga kalangan muda banyak yang meniru sikap tersebut.
b)        Demokratisasi yang melewati batas etika, sopan santun dan maraknya aksi unjuk rasa, telah menimbulkan frustasi di kalangan anak muda dan hilangnya optimisme, sehingga yang ada hanya sifat malas, egois dan emosional.
c)        Tertinggalnya bangsa Indonesia dengan negara-negara lain dalam segala aspek kehidupan, membuat para pemuda tidak bangga lagi menjadi bangsa Indonesia.
2)        Faktor eksternal
a)        Cepatnya arus globalisasi yang berpengaruh terhadap moral generasi muda. Sehingga dari mereka lebih memilih kebudayaan negara lain, dibandingkan dengan kebudayaanya sendiri.
b)        Paham liberalisme yang dianut oleh negara-negara barat yang memberikan dampak pada kehidupan bangsa. Generasi muda cenderung meniru paham libelarisme, seperti sikap individualisme yang hanya memikirkan dirinya sendiri tanpa memperhatikan keadaan sekitar.
Arti penting dari implementasi terhadap penanaman nilai-nilai nasionalisme adalah menjaga tiap-tiap individu dari pengaruh luar yang semakin mudah seiring berkembangnya era globalisasi saat ini. Tidak semua kemajuan di era globalisasi sekarang ini membawa dampak positif bagi bangsa Indonesia.
Sebagai bangsa yang memiliki sikap nasionalisme, tentunya semua lapisan masyarakat tidak menginginkan pengaruh negatif masuk ke dalam diri generasi penerus bangsa. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran dari bangsa Indonesia sendiri untuk berpegang teguh pada nilai-nilai nasionalisme.
Kesadaran dalam berperilaku atau bersikap dalam kehidupan sehari-hari yang jarang ditemui tersebut menjadi beberapa kendala yang dialami oleh pendidik dalam penanaman nilai nasionalisme. Maka dari itu dalam pengembangan strategi penanaman sikap nasionalisme harus diupayakan seoptimal dan sedini mungkin.
2.    Pesantren
a.    Sejarah Pesantren
Pesantren merupakan lembaga pendidikan dan pengajaran islam dimana didalamnya terjadi interaksi antara kyai atau ustadh sebagai guru dan para santri sebagai murid dengan mengambil tempat di masjid atau halaman-halaman asrama (pondok) untuk mengaji dan membahas buku-buku teks keagamaaan karya ulama masa lalu yang biasa kita kenal dengan istilah kitab kuning.
Jauh sebelum masa kemerdekaan, pesantren telah menjadi sistem pendidikan  di seluruh pelosok nusantara, khususnya di pusat-pusat kerajaan islam yang mana memiliki karakteristik hampir sama dengan lembaga pendidikan walaupun menggunakan nama yang berbeda-beda. Seperti Meunasah di Aceh, Surau di Minangkabau dan Pesantren di Jawa (Maksum, 2001: 5).
Namun demikian, secara historis untuk mengetahui kapan munculnya pesantren di Indonesia dan asal-usul semua itu masih kabur. Disamping data yang kurang lengkap juga karena sejarah awal berdirinya pesantren selama ini yang masih diperdebatkan. Berdasarkan data Departemen Agama tahun 1984-1985, diperoleh informasi bahwa pesantren tertua di Indonesia didirikan pada tahun 1062 M dengan nama Jan Tampes II di Pamekasan Madura. Namun data tersebut juga mengandung pertanyaan tentang dugaan adanya pesantren Jan Tampes I sebagai pesantren yang lebih tua di Indonesia.
Banyak penulis sejarah pesantren berpendapat bahwa institusi ini merupakan hasil adopsi dari model perguruan orang-orang Hindu dan Budha. Sewaktu Islam datang dan berkembang di pulau Jawa telah ada lembaga perguruan Hindu dan Budha yang menggunakan sistem biara dan asrama sebagai tempat para pendeta dan bhiksu melakukan kegiatan pembelajaran kepada para pengikutnya.
b.   Jenis-Jenis Pondok Pesantren
Secara garis besar pesantren sekarang ini dapat dibedakan kepada dua macam (Dzanuryadi, 2011: 12) yaitu:
1)        Pesantren tradisonal
Yaitu pesantren yang masih mempertahankan pola atau sistem pengajaran yang masih tradisional, dengan materi pengajaran kitab-kitab klasik yang disebut kitab kuning.
2)        Pesantren Modern
Yaitu pesantren yang muncul dengan sistem pendidikan, kurikulum, pola, dan metode yang sudah mengikuti perkembangan zaman (zaman modern). Para santri tidak hanya belajar kitab-kitab klasik melainkan juga mendapatkan materi-materi seperti ilmu alam, ilmu sosial, informasi dan teknologi, ekonomi, bahasa asing, dan lain-lain.
Melihat dari sudut pengetahuan yang diajarkan, Wardi Bakhtiar (Tafsir, 2005: 193) menggolongkan pesantren menjadi dua macam:
1)  Pesantren salafi, yaitu pesantren yang mengajarkan kitab-kitab Islam klasik. Sistem madrasah diterapkan untuk mempermudah teknik pengajaran sebagai pengganti metode sorogan. Pada pesantren ini tidak diajarkan pengetahuan umum.
 2) Pesantren khalafi, yang selain memberikan pengajaran kitab klasik juga membuka sistem sekolah umum di lingkungan dan di bawah tanggung jawab pesantren.
Berdasarkan proses perkembangannya, Endin (2005: 15) mengklasifikasikan pesantren menjadi empat jenis, yaitu:
1)        Pesantren salafy (tradisional)
Yaitu pesantren yang hanya memberikan materi agama kepada santrinya. Tujuan pokok dari pesantren ini adalah mencetak kader-kader da’i yang akan menyebarkan Islam di tengah masyarakat. Pada pesantren ini, seorang santri hanya dididik dengan ilmu-ilmu agama dan tidak diperkenankan mengikuti pendidikan formal. Kalaupun ilmu-ilmu itu diberikan, maka hal itu hanya sebatas pada ilmu yang berhubungan dengan keterampilan hidup.


2)        Pesantren ribathi
Yaitu pesantren yang mengkombinasikan pemberian materi agama dengan materi umum. Biasanya, selain tempat pengajian, pada pesantren ini juga disediakan pendidikan formal yang dapat ditempuh oleh para santrinya. Tujuan pokok dari pesantren ini, selain untuk mempersiapkan kader dai, juga memberikan peluang kepada para santrinya untuk mengikuti pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
3)        Pesantren khalafi (modern)
Yaitu pesantren yang didesain dengan kurikulum yang disusun secara baik untuk mencapai tujuan yang dinginkan. Disebut khalafi karena adanya berbagai perubahan yang dilakukan baik pada metode maupun materi pembelajaran. Oleh karena itu, materi dan waktu pembelajaran di pesantren disesuaikan dengan luangnya waktu pembelajaran di sekolah formal.
4)        Pesantren jami’i (asrama pelajar dan mahasiswa)
 Yaitu pesantren yang memberikan pengajaran kepada pelajar atau mahasiswa sebagai suplemen bagi mereka. Dalam perspektif pesantren ini, keberhasilan santri dalam belajar di sekolah formal lebih diutamakan.



c.    Pola-Pola Pondok Pesantren
Apabila dilihat dari sarana fisik yang dimiliki sebuah pesantren (Maksum, 2001:18) pesantren dapat dikelompokkan kedalam lima macam:
1)        Tipe Pertama
Pada tipe ini pesantren hanya terdiri dari masjid dan rumah kyai. Pesantren seperti ini masih bersifat sangat sederhana karena hanya berfungsi untuk pengajian saja, kyai menjadikan masjid atau rumahnya sendiri sebagai tempat diselenggarakannya kegiatan pembelajaran kepada para santri.  Para santri sendiri tidak menetap di lingkungan itu, melainkan tinggal di rumah masing-masing, sehingga ada yang menyebut bahwa tipe ini tidak dapat dikategorikan sebagai pesantren tetapi sebagai pengajian biasa.
2)        Tipe Kedua
Pada tipe ini selain adanya masjid dan rumah kyai,  didalamnya telah tersedia pula bangunan berupa pondok atau asrama bagi para santri yang datang dari tempat jauh. Pada tipe ini unsur dasar pesantren telah terpenuhi sehingga dapat dikategorikan sebagai sebuah pesantren.
3)        Tipe Ketiga
Pesantren tipe ini telah memilki masjid, rumah kyai, serta pondok. Yang mana didalamnya telah diselenggarakan pengajian dengan berbagai metode seperi sorogan, bandongan dan sejenisnya. Disamping itu pula juga telah memiliki sarana lain seperti madrasah atau sekolah yang berfungsi sebagai tempat untuk belajarnya para santri, baik untuk ilmu-ilmu agama maupun ilmu-ilmu umum.
4)        Tipe Keempat
Pesantren tipe ini selain telah memiliki masjid, rumah kyai serta pondok juga telah dimilki pula tempat untuk pendidikan ketrampilan, seperti lahan untuk peternakan dan pertanian, tempat untuk membuat kerajinan, koperasai, laboratorium, dan lain sebagainya.
5)        Tipe Kelima
Pada tipe ini pesantren telah berkembang sehingga disebut pula sebagai pesantren modern. Disamping adanya masjid, rumah kyai dan ustadz, pondok, madrasah, terdapat pula bangunan-bangunan fisik lain seperti: perpustakaan, dapur umum, ruang makan, kantor, toko, rumah penginapan untuk tamu, tempat olah raga, aula dan seterusnya.
d.   Tujuan Pondok Pesantren
Pesantren sebagai sebuah lembaga pendidikan mempunyai tujuan yang dirumuskan dengan jelas sebagai acuan program-program pendidikan yang diselenggarakannya. Profesor Mastuhu (Nafi’, 2007: 49) menjelaskan bahwa tujuan utama pesantren adalah untuk mencapai hikmah atau wisdom (kebijaksanaan) berdasarkan pada ajaran Islam yang dimaksudkan untuk meningkatkan pemahaman tentang arti kehidupan serta realisasi dari peran-peran dan tanggungjawab sosial. Secara spesifik, beberapa pesantren merumuskan beragam tujuan pendidikannya yang dapat diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok; yaitu pembentukan akhlak/kepribadian, penguatan kompetensi santri, dan penyebaran ilmu (Nafi’, 2007: 50).
Pendidikan di pesantren secara garis besar dapat di kelompokkan menjadi dua yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. (LP Ma’arif NU, 1999: 3):
1)        Tujuan umum pesantren yaitu membina warga negara agar berkepribadian muslim sesuai dengan ajaran islam dan menanamkan rasa keagamaan tersebut pada semua segi kehidupan serta menjadikannya sebagai orang yang berguna bagi agama, masyarakat dan negara.
2)        Tujuan khusus pesantren yaitu:
a)        Mendidik santri untuk menjadi orang muslim yang bertakwa kepada Allah, berakhlak mulia, memiliki kecerdasan, keterampilan dan sehat lahir batin sebagai warga negara yang berpancasila.
b)        Mendidik santri agar menjadi kader-kader ulama dan mubalig yang berjiwa ikhlas, tabah, tangguh, wiraswasta dan mengamalkan syariat islam secara utuh dan dinamis.
c)        Mendidik santri memperoleh kepribadian dan semangat kebangsaan agar dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya dan bertanggung jawab kepada pembangunan bangsa dan negara.
d)       Mendidik santri agar menjadi tenaga-tenaga yang cakap dalam berbagai sektor pembangunan, khusunya pembangunan material spiritual.
e)        Mendidik para santri agar dapat membantu meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakat dalam rangka ikut membantu pembangunan bangsa.
e.    Unsur-unsur Pondok Pesantren
Secara umum perlu diberikan suatu keseragaman pengertian tentang pesantren. Untuk itu tidak mudah, karena banyaknya pesantren yang dapat disebutkan hanyalah unsur-unsur pokoknya saja. Unsur-unsur tersebut ada lima yaitu: pondok, masjid, santri, pengajaran kitab-kitab klasik, dan kyai.
Menurut Mastuhu, pondok pesantren dapat dikelompokkan menjadi dua unsur. Pertama unsur organik, yaitu terdiri dari para pelaku pendidikan: pimpinan atau kyai, guru, murid dan pengurus. Kedua, unsur anorganik, yaitu: pondok, masjid dan kitab-kitab klasik (Muthohar, 2007:17).
1)  Kyai, Merupakan tokoh sentral dalam pesantren yang memberikan pengajaran. Karena itu kyai adalah salah satu unsur yang paling dominan dalam kehidupan suatu pesantren. Kemasyhuran, perkembangan dan kelangsungan kehidupan suatu pesantren banyak tergantung pada keahlian dan kedalaman ilmu, kharismatik dan wibawa, serta keterampilan kyai yang bersangkutan dalam mengelola pesantrennya. Dalam konteks ini, pribadi kyai sangat menentukan sebab ia adalah tokoh sentral dalam pesantren.
2)  Ustadh, yang mana didalamnya juga memiliki peran strategis dalam pendidikan pesantren. Ustadh selain sebagai penjaga moral setelah kyai, juga dituntut secara intelektual dan terampil dalam mendidik santri agar mampu diarahkan sesuai dengan apa yang dicita-citakan oleh pesantren.
 3)  Santri, merupakan pokok dari suatu pesantren, biasanya terdiri dari 2 (dua) unsur yaitu santri mukim yang berasal dari daerah jauh dan menetap, serta santri kalong yang berasal dari daerah sekitar dan biasanya pulang ke tempat tinggalnya masing-masing (Shodiq, 2007:2).
Santri mukim atau kalong, merupakan bagian dari kehidupan pesantren. Pesantren kecil biasanya mempunyai santri-santri dari sekitar wilayahnya pada tingkat kecamatan dan kabupaten, sedangkan pesantren yang tergolong besar mempunyai santri-santri diseluruh pelosok nusantara.
Banyaknya santri dalam suatu pesantren biasanya dijadikan tolak ukur atas maju mundurnya suatu pesantren yangg bersangkutan. Semakain banyak santri, pesantren dapat dinilai lebih maju, dan begitu juga sebaliknya. Akan tetapi tingkat pencapaian prestasi santri juga menjadi tolak ukur totalitas santri sebagai pribadi, perilaku dan moral.
4)  Pengurus pesantren adalah beberapa warga pesantren yang berstatus bukan kyai, ustadz maupun santri. Tetapi keberadaanya sangat diperlukan untuk ikut serta mengurus dan memajukan pesantren bersama unsur-unsur pelaku lainnya. Peran mereka tidak terbatas pada manajerial, pembangunan fisik, dan non edukatif lainnya, tetapi juga ikut memberikan pelajaran agama, membimbing para santri dan memberikan pertimbangan keputusan kepada kyai. Dalam hal penjagaan nilai, pengurus juga dikelompokkan menjadi dua, yaitu pengurus yang membantu kyai dalam menjaga nilai kebenaran absolut dan pengurus yang membantu kyai dalam pengamalan nilai-nilai agama dengan kebenaran relative (Muthohar,2007:34).
5)  Pondok, merupakan tempat tinggal kyai beserta para santrinya, juga menampung santri-santri yang berasal dari daerah yang jauh untuk bermukim. Pondok juga bertujuan untuk melatih para santri agar mampu hidup mandiri dalam masyarakat.
       Menurut Maksum (2001:9) ada empat alasan utama pesantren membangun pondok (asrama) untuk para santrinya:
a)        Ketertarikan santri untuk belajar kepada seorang kyai dikarenakan kemashuran atau kedalaman serta keluasan ilmunya yang mengharuskankanya untuk meninggalkan kampung halamannya.
b)        Kebanyakan pesantren adalah tumbuh dan berkembang di daerah yang jauh dari keramaian pemukiman penduduk sehingga tidak terdapat perumahan yang cukup memadai untuk menampung para santri dengan jumlah banyak.
c)        Terdapat sikap timbal balik antara kyai dan santri yang berupa terciptanya hubungan kekerabatan seperti halnya hubungan ayah dan anak. Sikap timbal balik ini menimbulkan keakraban dan kebutuhan untuk saling berdekatan secara terus menerus dalam jangka waktu yang lama.
d)       Untuk memudahkan dalam pengawasan dan pembinaan kepada para santri secara intensif dan istiqomah. Hal ini dapat dimungkinkan jika tempat tinggal antara guru dan murid berada dalam satu lingkungan yang sama.
6)  Masjid, sebagai pusat kegiatan ibadah dan kegiatan belajar mengajar. Disamping sebagai tempat sholat berjamaah, juga berfungsi sebagai tempat pengajaran. Pada sebagian pesantren, masjid juga berfungsi sebagai tempat I’tikaf dan melaksanakan latihan-latihan, dzikir maupun amalan-amalan lainnya dalam kehidupan tarekat dan sufi.
7)  Kitab-kitab klasik. Unsur-unsur pokok lain yang membedakan pondok pesantren dengan lembaga pendidikan lain adalah bahwa pesantren diajarkan kitab-kitab klasik yang berisi berbagai ilmu pengetahuan agama Islam dan bahasa arab. Pelajaran di mulai dari kitab yang sederhana, lalu dilanjutkan dengan kitab-kitab yang lebih mendalam.
Pondok pesantren dapat disebut sebagai lembaga nonformal karena eksistensinya berada dalam jalur sistem yang disusun sendiri dan pada umumnya bebas dari ketentuan formal. Dengan demikian pondok pesantren bukan saja tempat santri melainkan juga tempat yang mempelajari apa saja sekalipun kebebasan ini amat dibatasi oleh kurangnya fasilitas dan sarana pendidikan yang memungkinkan berkembangnya ruang lingkup dan jenis ilmu yang dipelajari.
f.     Sistem Pendidikan dan Pengajaran Pesantren
Dalam sistem belajar mengajar di pesantren dari dulu hingga sekarang yang diberikan kepada beberapa bentuk, antara lain:
1)        Sorogan
Artinya belajar mengajar sendirian dimana seorang santri berhadapan dengan seorang guru, terjadi saling berhubungan dan saling mengenal di antara keduanya. Sorogan disebut juga sebagai cara mengajar perkepala yaitu setiap santri mendapat kesempatan tersendiri untuk memperoleh pelajaran secara langsung dari kyai. Dengan cara ini, pelajaran diberikan oleh pembatu kyai yang disebut “badal” (Hasbullah, 2001: 145).
Metode sorogan ini merupakan bagian yang paling sulit dari keseluruhan metode pendidikan Islam tradisional, sebab sistem ini menuntut kesabaran, kerajinan, ketaatan, dan disiplin pribadi santri. Kendati demikian, metode seperti ini diakui paling intensif karena dilakukan seorang demi seorang dan ada kesempatan untuk tanya-jawab langsung.
2)   Bandongan
Artinya belajar secara kelompok yang diikuti oleh seluruh santri. Dan biasanya kyai menggunakan bahasa daerah setempat dan langsung menerjemahkan kalimat demi kalimat dari kitab yang dipelajarinya. Metode ini dilakukan dalam rangka memenuhi kompetensi kognitif santri dan memperluas referensi keilmuan mereka. Dalam sistem bandongan ini, hampir tidak pernah terjadi diskusi antara kyai dan para santrinya, tetapi teknik ini tidak berdiri sendiri, melainkan diimbangi juga dengan sorogan dan teknik lain yang para santri lebih aktif (Nafi’, 2007: 67).
Di pesantren juga tidak mengenal istilah ujian, kecuali dalam sistem klasikal. Kalau santri sudah selesai mengikuti pengajian suatu kitab, maka biasanya ditutup dengan doa bersama, pemberian ijazah dari kyai, yaitu izin untuk mengajarkan kitab yang telah dipelajari itu kepada orang lain atau ijazah ilmu-ilmu kanuragan (Masdar, 2005: 97)
g.    Prinsip Pembelajaran Pondok Pesantren
Menurut Maksum (2001:115) dalam kegiatan pembelajaran disuatu pesantren prinsip-prinsip umum belajar dan motifasi perlu diterapakan, ada beberapa prinsip yang perlu digunakan dalam pembelajaran pesantren antara lain:

1)        Kebermaknaan
Prinsip ini memiliki arti bahwa para santri akan mempelajari sesuatu hal apapun jika sesuatu itu bermanfaat atau bermakna bagi kehidupannya baik untuk masa kini maupun untuk masa datang, termasuk bagi kehidupanya sendiri maupun untuk kepentingan masyarakat.
2)        Prasyarat
Pada prinsip ini seorang santri akan berusaha untuk mempelajari sesuatu hal yang baru apabila mereka telah memiliki semua prasyarat yang diperlukan untuk mempelajarinya. Bila santri telah memilikinya, maka ia akan merasa bahwa pelajarannya itu bermakna dan mampu menerima hubungan pengetahuan yang lebih. Hal ini dapat dimengerti karena para kyai di pesantren tidak hanya berfungsi sebagai seorang pengajar tetapi juga berfungsi sebagai orang tua yang senantiasa memberikan bimbingan-bimbingannnya dalam suasana kekeluargaan.
3)        Keterbukaan
Prinsip ini menekankan agar pendidik mendorong para santrinya agar lebih banyak mempelajari sesuatu dengan cara penyajian yang disusun sedemikian rupa sehingga pesan-pesan pendidik terbuka bagi santri.

4)        Kebaruan
Para santri biasanya akan lebih tertarik untuk mempelajari sesuatu hal apabila hal itu adalah sesuatu yang baru dan belum diketahui.
5)        Keterlibatan
Prinsip ini menjelaskan bahwa para santri dapat belajar lebih giat dan aktif bilamana mereka terlibat secara aktif dalam berbagai kegiatan pembelajaran di pesantren. Keterlibatan para santri ini biasanya dilakukan pada waktu kegiatan praktik ibadah.
6)        Kebersamaan
Kehidupan para santri di dunia pesantren senantiasa berada dalam kehidupan sosial yang aktif, maka dalam kegiatan belajarpun mereka akan melakukannya dengan bersama-sama.
h.   Peranan Pesantren Dalam Masyarakat
Peranan pesantren dalam masyarakat ada tiga macam (LP Ma’arif NU, 2011: 7) yaitu:
1)        Pesantren sebagai lembaga pendidikan
Pesantren sebagai lembaga pendidikan secara umum bertanggung jawab terhadap proses pencerdasan bangsa, sedangkan secara khusus pesantren bertanggung jawab atas kelangsungan tradidi keagamaan (Islam).
Pada dasarnya pendidikan pesantren mengutamakan aspek keagamaan dengan metode klasiknya. Dalam pesantren bukan hanya tempat belajar melainkan tempat proses hidup itu sendiri karena dalam pesantren pada dasarnya tidak ada pemisahan yang jelas antara sekolah dan lingkungan hidup.
Pesantren sebagai lembaga pendidikan memiliki intelektual yang tinggi karena model-model pendidikan yang dilakukan tidak terikat secara psikologis oleh waktu. Para santri juga bebas belajar menurut materi yang disuguhkan selama kapasitas intelektualnya mampu.
2)        Pesantren sebagai lembaga pendidikan dakwah
Pesantren sebagai lembaga pendidikan yang bertugas melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar. Pendidikan pesantren bertugas mencetak kader-kader yang menguasai agama dan dapat memberikan ajaran agama melalui dakwah secara aktual. Seorang alumni pesantren dituntut secara tidak langsung untuk terlibat dalam berbagai persoalan yang dihadapinya baik dalam ekonomi, sosial, budaya dan sebagainya.
3)        Pesantren sebagai tempat pengabdian dan pelayanan masyarakat
Pesantren dapat berfungsi sebagai lembaga pengabdian masyarakat karena:
a)        Cara memandang kehidupan sebagai peribadatan meliputi ritual keagamaan murni maupun kegairahan untuk melakukan pengabdian kepada masyarakat. Hal ini mendorong tumbuhnya kesediaan untuk melakukan pengabdian tanpa memikirkan imbalannya.
b)        Kecintaan mendalam terhadap peribadatan dan pengabdian kepada masyarakat.
c)        Sanggup memberikan pengabdian apapun bagi kepentingan masyarakat serta mendorong munculnya kesediaan untuk mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan perseorangan.
Pesantren merupakan tempat pelayanan masyarakat karena pesantren berperan besar dalam upaya meningkatkan kesejahteraan umat dengan memberikan pelayanan kepada masyarakat, membantu kebutuhan masyarakat, baik material maupun spiritual.

H.  METODE PENELITIAN
1.    Dasar Penelitian
Dalam suatu penelitian, untuk mendapatkan hasil yang optimal harus menggunakan metode penelitian yang tepat. Ditinjau dari permasalahan dalam penelitian ini, yaitu tentang penanaman nilai-nilai nasionalisme di Pondok Pesantren Assalafy Al Asror Kelurahan Patemon Kecataman Gunungpati Semarang. Maka penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif.
Bagdan dan Taylor mendefinisikan metodologi kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat di amati. Perilaku ini diarahkan pada latar belakang dan individu tersebut secara utuh (Moleong, 2006:4).
2.    Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian adalah tempat dimana seorang peneliti melakukan penelitian atau tempat dimana penelitian dilakukan. Lokasi penelitian ini yaitu: Pondok Pesantren Assalafy Al Asror yang terletak di Jl. Kauman No 01 Kelurahan Patemon Kecataman Gunungpati Semarang.
3.    Fokus Penelitian
Fokus penelitian menyatakan pokok persoalan apa yang menjadi pusat perhatian dalam penelitian. Penetapan fokus penelitian merupakan tahap yang sangat menetukan dalam penelitian kualitatif. Hal ini karena suatu penelitian kualitatif tidak di mulai dari sesuatu yang kosong atau tanpa adanya masalahtetapai dilakukan berdasarkan persepsi seseorang terhadap adanya masalah. Jadi fokus dari penelitian kualitatif sebenarnya masalah itu sendiri.
Dalam penelitian ini yang menjadi fokus penelitian adalah:
1)        Pelaksanaan penanaman nilai-nilai nasionalisme di Pondok Pesantren Assalafy Al Asror meliputi:
a)      Cara, metode, bentuk dan materi dalam pembelajaran.
b)      Kegiatan ekstrakurikuler.
2)        Faktor-faktor yang menunjang dan menghambat pada penanaman nilai-nilai nasionalisme di Pondok Pesantren Assalafy Al Asror Kelurahan Patemon Kecataman Gunungpati Semarang dapat dilihat dari beberapa indikator:
a)      Faktor yang menunjang, meliputi:
(1)   Motivasi  
(2)   Komitmen  
b)      Faktor yang menghambat, meliputi:
(1)   Kedisiplinan  
(2)   Sanksi
3)        Upaya-upaya yang dilakukan untuk mengatasi hambatan-hambatan dalam penanaman nilai-nilai nasionalisme di Pondok Pesantren Assalafy Al Asror Kelurahan Patemon Kecataman Gunungpati Semarang
4.    Sumber Data Penelitian
Yang dimaksud data dalam penelitian adalah subyek darimana data dapat diperoleh (Arikunto 1998 : 114). Yang menjadi sumber data dalam penelitian ini adalah:
a.  Sumber Data Primer
Data primer yaitu kata-kata dan tindakan orang-orang yang di amati atau diwawancarai (Moleong, 2006 :157). Sedangkan menurut Kaelan (2005:148) sumber data primer adalah buku-buku yang secara langsung berkaitan dengan obyek material penelitian.
Sumber data  primer dalam penelitiaan ini adalah santri, ustadh, dan kyai Pondok Pesantren Assalafy Al Asror Kelurahan Patemon Gunungpati Semarang, dengan harapan dapat memberikan informasi dan keterangan-keterangan yang memadai sesuai aspek kajian yang dirumuskan.
b.  Sumber Data Sekunder
Dilihat dari sumber data, sumber sekunder terbagi atas sumber buku dan majalah ilmiah, sumber dari arsip, dokumen pribadi dan dokumen resmi (Moleng, 2006 :159).
Untuk melengkapi dan mendukung sumber data primer digunakan sumber data tambahan berupa dokumen-dokumen serta arsip-arsip yang terdapat di pondok pesantren beserta komponen-komponen lainnya untuk dijadikan bahan studi kelayakan.
Sumber data untuk mendukung penelitian ini diperoleh dari informan:
1)        Bapak kyai sebagai orang yang bertanggung jawab terhadap pondok pesantren.
2)        Para santri dan ustadh sebagai orang yang terkait dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan penanaman nilai nasionalisme di pondok pesantren.
5.    Teknik Pengumpulan Data
Berkaitan dengan cara-cara yang ditempuh dalam rangka mendapatkan data dan informasai yang diperlukan dan sesuai dengan ciri-ciri penelitian kualitatif, maka pengumpulan data dapat dilakukan dalam berbagai setting, berbagai sumber, dan berbagai cara. Secara umum terdapat Tiga macam teknik pengumpulan data, yaitu: observasi, wawancara dan dokumentasi.
Macam Teknik Pengumpulan Data
Observasi
Wawancara
Dokumentasi
 






Gambar 1. Macam Teknik Pengumpulan Data

a. Observasi (Pengamatan)
Observasi merupakan pengumpulan data yang menggunakan pengamatan terhadap obyek penelitian. Teknik ini digunakan untuk mengumpulkan bebrapa informasi atau data yang berhubungan dengan ruang, pelaku, kegiatan, objek, perbuatan, kejadian atau peristiwa, waktu dan perasaan. Adapun teknik observasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah Observasi partisipasi (participant observation) yaitu metode pengumpulan data yang digunakan untuk menghimpun data penelitian melalui pengamatan dan pengindraan dimana pengamat atau peneliti benar-benar terlibat dalam keseharian responden (Iskandar, 2009:128).
Hasil observasi ini nantinya akan dicatat dan dari catatan itu kemudian akan peneliti olah sebagai data untuk menjawab permasalahan yang ada dalam penelitian.

Dalam penelitian ini yang menjadi fokus observasi adalah:
1)        Keadaan fisik pesantren.
2)        Pelaksanaan belajar mengajar.
3)        Sarana dan prasarana.
4)        Aktivitas di pondok pesantren.
b.  Wawancara
Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak yaitu pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan pihak yang diwawancarai yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu (Moleong, 2006:116).
Adapun jenis wawancara yang peneliti gunakan adalah wawancara tidak terstruktur, yaitu pedoman wawancara yang hanya memuat garis besar yang akan di tanyakan (Arikunto, 1998:231). Wawancara dalam penelitian ini, peneliti menggunakan alat pengumpul data yang berupa pedoman wawancara yaitu instrumen yang berbentuk pertanyaan yang ditujukan kepada kyai, ustadh dan santri Pondok Pesantren Assalafy Al Asror.
Dengan teknik wawancara ini diharapkan peneliti dapat memperoleh data tentang penanaman nilai-nilai nasionalisme,  hambatan-hambatan dan upaya-upaya yang dilakukan oleh para pendidik dalam mengembangkan sikap nasionalisme pada peserta didik(santri).


c.    Dokumentasi
Menurut Arikunto (1998:236), dokumentasi adalah metode mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, prestasi, agenda, dan sebagainya. Metode dokumentasi digunakan untuk mancari dan mengumpulkan data serta informasi tertulis yang berhubungan dengan permasalahan penelitian.
Metode ini dilakukan dengan cara mengumpulkan data-data tertulis yang ada di Pondok Pesantren Assalafy Al Asror yang berkaitan dengan penelitian, serta literatur-literatur lain yang mendukung penelitian.
6.    Validitas Data
Dalam penelitian ini, teknik yang digunakan untuk membuktikan keabsahan data dilakukan melalui triagulansi yang dicapai dengan jalan:
1)        Membandingkan data hasil pengamatan dengan hasil wawancara.
2)        Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan dengan penelitian.
7.    Metode Analisis Data
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini, adalah model Miles dan Huberman yang dapat dilakukan melaui langkah-langkah sebagai berikut: (1) Penyediaan data (2) Reduksi data (3) Display atau Penyajian data (4) Mengambil kesimpulan lalu verifikasi


Penyajian Data
Penyediaan Data
                                
Reduksi  Data
Kesimpulan atau Verifikasi
 






Gambar 2. Metode Analisis Interaktif (Usman dan Setiady, 2009:88)

Semua  langkah tersebut bukan sesuatu yang berjalan secara linier, tetapi bersifat simultan atau siklus yang interaktif. Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam penggunaan analisis ini adalah sebagai berikut:
a.    Penyediaan data
Peneliti mengumpulkan data yang diperoleh dilapangan baik berupa catatan, gambar, dokumen dan lainnya yang kemudian diperiksa, diatur dan kemudian diurutkan.
b.    Reduksi data
Peneliti mengumpulkan data penelitian dan menemukan kapan saja waktu untuk mendapatkan data yang banyak, peneliti menerapkan metode observasi, wawancara atau dari berbagai dokumen yang berhubungan dengan subyek yang diteliti. Selama proses ini peneliti melanjutkan dengan meringkas, mengkode, menemukan tema selama penelitian berlangsung sampai pelaporan penelitian selesai.

c.    Display atau Penyajian data
Dalam penelitian biasanya mendapatkan data yang banyak. Data yang diperoleh tidak mungkin dipaparkan secara keseluruhan. Oleh karena itu, penyajian data tersebut kemudian di analisis oleh peneliti untuk disusun secara sistematis atau simultan sehingga data yang diperoleh dapat menjelaskan atau menjawab masalah yang diteliti.
d.   Mengambil kesimpulan
Kesimpulan merupakan analisis lanjutan dari reduksi data dan display data, sehingga data dapat disimpulkan dan peneliti masih berpeluang untuk menerima masukan.
Semua komponen tersebut merupakan suatu siklus, jika terdapat kekurangan data dalam penarikan kesimpulan, maka dapat digali dari catatan lapangan. Data yang tidak memiliki relevansi dengan maksud penelitian akan dikesampingkan.









DAFTAR PUSTAKA
Abubakar, Suardi dkk. 1995. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Untuk Kelas 2 SMU. Jakarta: Yudhistira.

Amanda dkk, 2010.  Nasionalisme Indonesia. Makalah. Malang: FT Universitas Brawijaya

Ari, Dwi. 2009. Sejarah Untuk SMA/MA Kelas XI Program IPS. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.

Arikunto, Suharsini. 1998. Prosedur Penelitian. Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT Rineka Cipta.


Budiyanto. 2005. Kewaganegaraan Untuk SMA Kelas XI. Jakarta: Erlangga.

 
Dzanuryadi. 2011. Goes to Pesantren Jakarta: PT Lingkar Pena Kreativa.

Depdikbud. 2007. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Iskandar. 2009. Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT Gaung Persada.

Kaelan.2005. Metode penelitian kualitatif bidang Filsafat. Yogyakarta: PT Paradigma.

Maksum. 2001. Pola Pembelajaran Pesantren. Jakarta: Depag RI.

Moleong, Lexy J. 2006. Metodolagi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset.

Muchtar, Heri Jauhari. 2005. Fikih Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.

Muntahar, Ahmad. 2007. Ideologi pendidikan pesantren. Semarang: PT Rizki Pustaka.

Nafi’, M. Dian dkk. 2007. Praksis Pembelajaran Pesantren. Yogyakarta: PT LKiS Pelangi Aksara.

Pimpinan Wilayah Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Jawa Tengah. 1999. Materi Dasar Nahdlatul Ulama (Ahlussunah Waljama’ah)

Smith, Anthony D. 2002. Nasionalisme teori, Ideologi, Sejarah Terjemahan Frans Kowa. Jakarta: Erlangga.

Sutrisno. 2005. Pengantar Ilmu Hukum. Semarang: FIS UNNES

Sugito, AT. 2011. Pendidikan Pancasila. Semarang: UNNES Press.

Tjahyadi, Sindung. 2010. Nasionalisme dan Pembangunan Karakter Bangsa Dalam Perspektif
Usman, Husaini dan Punomo Setiady. 2009. Metodologi Penelitian Sosial. Jakarta: Bumi Aksara

Zamzam dkk. 2011. NUhammadiyah Bicara Nasionalisme. Jakarta: Ar-Ruzz Media.



1 komentar: